Teman Sekantor

27th July 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1033 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Teman Sekantor

Aku bekerja di perusahaan keuangan Jln.
Jendral Sudirman, Jakarta. Posisiku lumayan bagus. Usia 30 tahun,
dengan tinggi badan 175 cm dan berat 69 kg. Pengalaman ini terjadi
seminggu yang lalu.

Waktu itu baru jam 7 malam. Aku sudah mau
pulang karena ada janji dengan teman di Cinere. Ketika lewat front
office kulihat Fafa sedang berbenah mau pulang juga. Ketika kutanya
ternyata dia mau ke kawannya di Lebak Bulus. Jadi satu jalan. Kebetulan
Fafa tidak bawa mobil sendiri. Kutawari untuk pulang bareng dan Fafa
oke. Daripada kehujanan, katanya. Lumayan ada teman ngobrol di jalan.

Dalam
bekerja Fafa masuk dalam supervisiku. Kuakui dia sangat cantik.
Berdarah Arab (Yaman kata dia), langsing, tinggi sekitar 165-170 cm dan
kulitnya putih. Rambutnya berombak agak pirang (asli, bukan karena
dicat) dan bibirnya sangat sensual.

“Dingin Fa?”, tanyaku ketika sampai di sekitar Blok A.

Memang
kurasakan mobilku dingin sekali AC-nya. Padahal sudah kusetel minimal.
Mungkin karena hujan meskipun tidak deras. Dan penyakit di selatan
Jakarta, kalau hujan macetnya minta ampun. Jam sudah menunjukkan pukul
8.15.

“Iya Pak. Dingin banget”, katanya sambil mendekap tangannya ke dada.

“Kalau di luar gini jangan panggil Pak. Nama saja”, kataku.

“Ya Pak”.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Jam 9 kami masih berkutat di Blok A.

“Aku laper Fa”.

“Sama. Aku juga dari tadi”.

Kami
tertawa bareng. Perut kosong, badan menggigil. Bayangin. Kami ngobrol
apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya
untuk dapat cowok non arab.

Kulirik Fafa sedang menggosok-gosok tangan kanannya ke hand rem. Mungkin biar hangat. Dengan tangan kiri kupegang tangannya.

“Tanganmu dingin banget”.

“Dari tadi”.

“Aku juga kan?”.

“He
eh”, sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan
tetap lebat. Praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam diam saya remas-remas tangannya. Fafa diam saja. Bahkan juga mulai ikut meremas.

“Lumayan. Agak hangat”, kataku.

“He eh”, jawabnya sambil senyum.

Kulirik
Fafa memakai rok mini. Paha putihnya kelihatan meskipun agak gelap.
Kubawa tanganku ke pahanya. Fafa juga diam. Dilepaskan tangannya agar
tanganku leluasa meraba pahanya. Halus, haluus sekali pahanya.
Kuusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti aku mulai menyentuh celana
dalamnya. Dari ujung dengkul, dengan gerak mengambang kuusap sampai
menyentuh celana dalamnya. Berulang-ulang, Hmm…, lenguhnya.

“Makin hangat Fa”, bisikku.

Fafa
diam saja. Kulirik dia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku
di diusap-usapkan ke celana dalamnya. Kini Fafa yang mengendalikan
tanganku. Kurasakan mulai basah.

Tanpa sadar kulihat sudah lewat
Golden Trully. Kutarik tangan Fafa, kubawa ke penisku yang sejak tadi
menegang tapi masih rapi tertutup celanaku. Fafa mengerti. Dia
remas-remas penisku. Lama kami saling mengelus, mengusap dan meremas
barang maing-masing. Aku juga merasa sudah mulai basah.

Kami sudah sampai perempatan Lebak Bulus. Arah Cinere masih macet. Kanan arah Pondok Indah kosong. Jam sudah jam 11.

“Aku laper”, bisikku di telinga sambil menjilat belakang telinganya.

“Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparrr…”, bisiknya.

Fafa
tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan
kutarik pelan rambut vaginanya dari arah samping celana dalamnya. Fafa
terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif
mengelus-elus penisku dari luar.

Aku ambil kanan. Lalu menyusuri
jalur paling kiri. Sementara kegiatan dihentikan. Sekarang cari makan.
Kulihat bangunan berpagar bambu gelap. Jalannya turun. Mungkin hotel.
Kita bisa makan.

“Kiri ya?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya”, bisikku.

“Itu restoran?”, tanya Fafa.

“Nggak
tahu. Kalo resto ya syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya”,
jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku belum tahu sama sekali
tempat itu.

Aku belok kiri. Lalu ada orang berlari-lari memakai
payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk
sutau tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk garasi itu.
Aku masuk. Lalu pintu garasi ditutup. Aku memandang bingung ke arah
Fafa. Dia mengangkat bahunya tanda bingung atau tidak tahu juga. Aku
lalu turun. Fafa masih di dalam. Kuikuti petugas yang masuk pintu di
garasi. Ternyata kamar tidur. Sebuah spring bed besar di tengah. Dua
tempat duduk dan satu meja kaca. Dindingnya tertempel kaca besar. Kamar
mandi ada di dalam tapi pakai shower.

Ooo.., Ternyata ini hotel
atau motel garasi yang diceritakan teman-temanku. Setelah membayar
kamar dan pesanan makanan, petugas keluar. Aku mengikuti.

“Turun yuk”, kataku kepada Fafa.

Fafa
turun. Kugandeng dia masuk kamar. Lalu kukunci. Fafa tertegun. Aku lalu
berdiri di depannya. Memandangnya. Fafa lalu memandangku. Agak lama.
Entah bagaimana kami lalu saling menubruk. Kucium fafa sampai
terengah-engah. Kujilati bibirnya sambil berdiri. Lidahku meliuk-liuk
di dalam mulutnya. Fafa tak kalah garang. Dia memelukku erat-erat dan
membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke blusnya. Tangan kanan
menyususp ke celana dalam bagian belakang mengusap-usap pantatnya.
Kuciumi Fafa dengan buas. Bibir sensualnya kulumat habis. Lidahku
meliuk-liuk dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya.
Lalu turun ke leher. Kujilati lehernya. Fafa memejamkan matanya terus
menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap penisku yang
masih rapi dalam sarangnya.

Pintu diketuk dari luar. Otomatis kami menghentikan aktifitas yang menggairahkan ini.

“Aku ke kamar mandi dulu”, bisiknya, aku mengangguk.

Makanan
kutarik di meja. Kutuang coca-cola dalam gelas yang telah berisi es.
Kuteguk. Hmm…, segar. Kudengar suara shower di kamar mandi. Rupanya
Fafa mandi. Pantas lama. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi.

Gila!,
Gila!, Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan seeksotik ini.
Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona.

Kamar
mandi remang. Hanya cahaya lampu 5 watt yang menerangi. Fafa sedang
mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna.
Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagai di gambar-gambar
playboy. Tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi
pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Fafa sedang menggosok lehernya
dengan sabun sambil memejamkan matanya.

“Tolong matikan AC kamar. Agar nggak kedinginan kalau keluar”, katanya.

Aku
terjaga dari lamunanku. Cepat aku keluar. Memang dingin sekali. AC
tidak kumatikan tapi kusetel menjadi 35. Biar hangat. Lalu aku ke kamar
mandi.

“Jangan bengong. Mandi sekalian.”, katanya waktu aku bengong lagi, aku segera melepas dan celanaku.

Airnya
hangat. Pantas Fafa berlama-lama setelah kedinginan di mobil tadi.
Setelah badanku basah tersiram air, Fafa menyabuni seluruh tubuhku
dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut.
Disuruhnya aku berbalik dan kemudian punggungku. Fafa jongkok.
Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Kurasakan
seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya ke seluruh tubuhnya.
Akhirnya Fafa memegang penisku dan dielusnya pelan-pelan. Licin dengan
sabun, kemudian ditarik dan lepaskan tangannya dari penisku.

Kini
giliranku. Kuambil sabun dari tangan Fafa. Mula-mula kuusap kedua
tangannya. Lalu perutnya. Naik, kedua dadanya kusabuni dengan lembut.
Kenyal. Putingnya mencuat ke atas. Tangan kiriku ke dada kanan dan
tangan kananku ke dada kirinya. Berulang-ulang. Fafa memejamkan matanya
sambil mendesah. Aku lalu jongkok. Kuusap kaki dan betis indahnya.
Pelan. Kunikmati keindahan ini. Lalu naik ke pahanya. Agak
direnggangkan agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu naik
sampai akhirnya kusabun rambut-rambut vaginanya. Agak lama kuusap
vaginanya.

“Sudah.sudah..”, lenguhnya.

Aku berdiri. Kupeluk
Fafa. Licin tapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Kuciumi mulutnya sampai
Fafa terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan.
Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua dadanya. Tangan Fafa juga
terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan
akhirnya bermuara ke penisku. Dikocok-kocoknya penisku. Aku merasa
nikmat. Belum pernah kualami pengalaman sedahsyat ini.

Fafa
mundur dan bersandar di dinding. Kaki direnggangkan. Tangannya terus
memegang penisku. Sabun makin cair tapi masih tetap licin. Perlahan
mulai kutusukkan penisku ke vagina Fafa. Fafa mengerti. Direnggangkan
lagi kakinya. Dibimbingnya penisku ke vaginanya. Dan ahh…, aku mulai
masuk. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Fafa memeluk
kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali. Badan masih licin. Terus
kuayun pantatku dan penisku menghujani vagina Fafa berulang-ulang.

Tak
lama, Fafa tak tahan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Fafa telah sampai
duluan. Penisku makin kencang menancap. Kuayun lagi pelan. Makin lama
makin cepat.

“Ah…, ah…, terus Pak…, terus…”, lenguhnya.
Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Kami terus berpelukan
erat sekali. Mulutnya terus kucium. Bibir sensualnya terlalu sayang
untuk dilewatkan.

Kucabut penisku. Kuhadapkan Fafa ke dinding. Aku ingin doggy style.
Fafa lalu nungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Kuusap-usap. Jari
tengahku mulai memainkan vaginanya. Fafa melenguh. Kumainkan
klitorisnya. Kuusap, kupelintir, kusodok. Fafa makin menggelinjang.
“Sekarang…, sekarang…”, desahnya.

Dipegangnya penisku. Dan
dibimbingnya masuk ke dalam vaginanya. Aku memejamkan mata. Kutusukkan
pelan penisku. Kucondongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin.
Enak sekali. Tanganku meraih kedua dadanya. Kuusap-usap. Licin nikmat
sekali. Berulang-ulang sambil menusuk penisku ke vagina Fafa. Aku lalu
menegakkan badanku. Kupegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat
ayunan. Fafa menggoyang-goyang pinggulnya. Aku tarik, Fafa juga ikut
menarik pinggulnya. Aku tusuk sekuatnya, Fafa pun mengimbanginya.
“Clep…, clep…, clep”.

Akhirnya aku mau keluar. Gerakan makin kupercepat. Jeritan Fafa makin keras.

“Di dalam atau di luar Fa..”, bisikku sambil terengah-engah.

“Di luar saja”, sahutnya.

Fafa tetap nungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan…, kucabut penisku dari lubang kemaluan Fafa.

“Sekarang Fa..”, kataku sambil memejamkan mata.

Fafa
balik badan lalu jongkok dan mengocok penisku. “Ahh…, “cret…,
cret…, cret”, maniku muncrat ke wajah dan badan Fafa. Banyak sekali.
Fafa terus meremas penisku sampai tetesan terakhir maniku.

Fafa meratakan spermaku ke dadanya, perut
dan mengusapkan ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower.
Aku membantunya menggosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih
menempel. Tapi tetap saja, yang lama kugosok buah dadanya yang ranum
itu. Putingnya kuhisap-hisap, kumainkan dengan lidahku.

“Entar lagi”, bisiknya.

“Nggak usah pakai handuk Fa..”, kataku ketika Fafa mau keluar menuju tempat tidur.

Fafa tersenyum. Dia keluar telanjang. Aku mengikuti. Fafa langsung ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.

“Lapar?”, tanyaku.

“Sangat”.

Fafa
duduk selonjor bersandar ke belakang. Fafa duduk di atasku. Vaginanya
menempel erat di penisku. Sepiring mie goreng di tengah, kita makan
berdua. Kami makan lahap. Cepat tandas. Aku raih nasi goreng dan kita
makan bersama. Sambil makan, Fafa menggerak-gerakkan pantatnya. Penisku
yang terjepit mulai mengeras.

“Sakit Fa..”, bisikku.

“Sebentar…,
tolong pegang piringnya”, ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian
memegang penisku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkan ke
vaginanya. “Blesss”.

“Nggak sakit kan?”, katanya sambil duduk.

Piring
yang aku pegang diminta lagi. Gila, kita lalu makan sambil penisku
menancap di vaginanya. Fafa menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan.
Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng. Kuambil coca-cola dingin.
Segar…

“Siap?”, tanyanya.

“Ntar dulu, biar turun nasinya”, kataku.

Aku
raih Fafa, kupeluk dan kutidurkan di atasku. Penisku tetap menancap di
vaginanya. Karena Fafa tingginya tidak beda jauh denganku, maka wajah
Fafa tepat di wajahku. Kami diam menikmati barang kita yang sedang
bersatu. Agak lama kita diam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Fafa menyapu hidungku.

“Mau didinginkan AC-nya?”, tanyaku.

“Dikit aja. Panas makin asyik. Makin berkeringat..”, ujarnya.

Fafa
menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika
penisku tercabut dari vagina Fafa. Aku berbalik memandang Fafa. Kucium
bibir Fafa dalam-dalam. Fafa menyambut dengan menyedot dalam-dalam
bibirku. Disedotnya pula lidahku. Lalu turun ke leher dan akhirnya
kuhisap-hisap puting susunya yang menantang. Fafa melenguh-lenguh.
Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih
mengulum dadanya. Capek. Kucium ganas mulutnya. Tanganku meraba-raba
pahanya. Lalu mengusap-usap rambut kemaluannya, berulang-ulang. Jari
tengahku lalu memasuki vaginanya. Kumasukkan perlahan-lahan. Keluar
masuk. Kepala Fafa bergerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju,
mundur. Kayaknya mulai on lagi. Aku pindah lagi. Kujilati putingnya
dengan lidahku. Kupuntir-puntir, kusentuh-sentuh dengan ujung lidah.
Lalu kuhisap dan kukunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati
permainanku. Bibirnya kulihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku
menemukan klitorisnya. Kumainkan. Kutekan, kugelitik dan kutangkap
dengan jempolku lalu kupencet pelan-pelan. Fafa makin menggelinjang.
Keringat mengucur di wajah dan lehernya. aakkhh.., Fafa menjerit dan
menegang. Tanganku terjepit pahanya. Sejenak Fafa terdiam.

“Gile…, bener..”, desahnya sambil memandangku.

Aku
turun dari tempat tidur. Kusetel AC menjadi 28. Hembusan hawa agak
dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama kumatikan. Juga lampu dekat
kamar mandi. Pintu kamar mandi kututup agar cahayanya tidak masuk. Yang
menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku
berdiri di samping tempat tidur. Kupandangi Fafa yang bugil tanpa
selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau
bekas goresan dan luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang
kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam
seperti menikmati orgasme yang baru kuberikan. Dadanya menantang.
Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi
sekali. Kulayangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan
lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel.
Rambut-rambut vaginanya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil,
panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping.
Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku
semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus penisku.

“Jangan onani sendiri…, naik”, kata lirih Fafa mengagetkanku.

Matanya
masih terpejam. Fafa menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai…, indahnya.
Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya
ditekuk sedikit. Mulus sekali…

Kurebahkan badanku di samping
Fafa. Kumiringkan badanku. Kupeluk Fafa dari samping. Fafa tetap diam.
Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di
atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang vaginanya.
Kugerak-gerakkan mengusap rambut kemaluannya. Penisku menempel erat
pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.

“Giliranku…”,
ujar Fafa langsung bangun dan duduk bersila di sampingku. Dipandanginya
tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Fafa tersenyum.
Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung
dipegangnya penisku dengan tangan kirinya. Ufff.., Aku memejamkan mata.
Dipermainkan di penisku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram
lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya. Jempol jarinya lalu
mengusap-usap topi baja penisku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau
jarinya tepat menyentuh ujung penisku. Uuuff…, rasanya tak
tergambarkan.

Dengan ganas Fafa lalu menyerbu mulutku. Dilumat
dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak
pirang tergerai menerpa wajahku. Mulut Fafa terus menerobos mulutku,
dan lidahku menyusup masuk ke mulutku. Bagai ular, kurasakan mulut itu
menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Fafa menyerbu mulutku yang
kubuka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkan lidahku di
mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan
Fafa tak kalah aktif. Dikocoknya penisku dari lembut, makin cepat,
cepat dan lembut lagi. Permainan ini kunikmati sambil memejamkan mata.
Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan
kuremas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan
putingnya dan memang menonjol karena terangsang.

Fafa melepas
ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak
mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku
bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Fafa
mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkan lidahnya di
putingku. Bergantian. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan
di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aakkkhh…

Fafa
kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari penisku. Fafa
melangkahi aku, dan dengan perlahan Fafa hendak mendudukiku.
Dibimbingnya penisku untuk memasuki lubangnya. Dan uuuff.., blesss…,
penisku masuk ke lubangnya. Clep..!, Fafa langsung duduk dengan mantap.
Penisku tenggelam di vagina Fafa.

Aku membuka mataku. Fafa
tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol
tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya.
Kuusap pelan payudaranya. Juga putingnya.

“Kamu cantik dan seksi sekali Fa…”, kataku tulus dan pelan.

Fafa mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam. Tapi kedua tanganku mengelus-elus kedua dadanya.

Fafa
mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan
pantatku. Nikmat sekali. Tangan Fafa mendekap tanganku di dadanya.
Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada dadanya.
Kuremas keras. Fafa makin gila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Fafa
makin keras.

“Akkhh…, aakhh…, tusuk lebih keras…”, erangnya.

Aku
makin ganas menembak Fafa. Untung spring bednya bagus, bisa memantul.
Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Fafa. Dan
aakkkhh…, Fafa mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Fafa lalu
rebah ke atasku. Kupeluk erat tubuhnya. Ternyata Fafa mengalami orgasme.

Penisku
masih tegak dan keras dalam vagina Fafa. Aku mulai menggerakkan
perlahan. Fafa duduk lagi. Kali ini Fafa mengambil posisi jongkok.
Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin
lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam
menusuk Fafa. Gila!, Bagai naik kuda, Fafa menghunjamkan vaginanya ke
batangku di bawahnya. Fafa mulai mengerang lagi. Dengan binal Fafa
menaik-turunkan pantatnya dan kuserbu vaginanya dengan penisku.

“Akkkhh…, akhh..”, Fafa terus mengerang.

Ketika
pantat Fafa meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan
pantatku. Kusambut vaginanya dengan penis perkasaku. Aku tak tahu lagi
rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Fafa
terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali.
Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Aku
merasa hampir sampai. Kupercepat tusukanku. Akkhh…, akh…, akhh…,
cepat…, cepat. Fafa juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.

“Aku
mau keluar Fa..”, bisikku pada Fafa, Fafa diam saja. Terus saja dia
menggoyangku. Dan akkh…, Fafa menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang
lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan Fafa makin kencang.

“Fa…, di dalam atau di luar..?”, tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Fafa.

Fafa
kemudian mencabut vaginanya dari penisku. Dikocoknya penisku cepat.
Akkhh…, makin cepat Fafa mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga
keluar.

“Kulum Fa”, pintaku.

“Aku belum pernah”, jawabnya sambil terus mengocok.

Namun
Fafa kemudian menunduk dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tangannya
tetap mengocok. Fafa tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut
penisku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Kunaik turunku
pantatku. Penisku keluar masuk mulut Fafa yang terus mengocok. Dan,
akkhh…, akkkhh…, eeemm…, berkali-kali spermaku muncrat dalam
mulut Fafa. Namun Fafa tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai
habis spermaku. Agak lama penisku dalam mulut Fafa. Ketika sudah loyo,
Fafa mengeluarkan penisku. Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya.
Dikeluarkannya spermaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu
berikutnya. Kemudian fafa mengambil coca cola, berkumur dan ditelan.
Kupandangi Fafa yang luar biasa dengan perasaan kagum. Fafa tersenyum
padaku. Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Kutarik selimut.
Kupeluk Fafa erat-erat. Kami lalu bobok.

Paginya kami bercinta
lagi di kamar mandi. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak
dinyana. Gadis secantik Fafa bisa kusetubuhi berulang kali tanpa
rencana.

Siang di kantor, ada email dari Fafa, “Pak, nanti sore kalau boleh Fafa ikut lagi. Mobil Fafa belum selesai”.

TAMAT


Teman Sekantor

No Comment yet. Be the first to comment on Teman Sekantor

Leave Your Comment Here!