Tante Rahayu Dan Temannya

3rd August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1597 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Tante Rahayu Dan Temannya

Saat itu hari Sabtu siang, ketika Tante
Ayu sedang ada di Jakarta dan ia meneleponku (mungkin no.HP-ku, ibuku
yang memberikan), untuk datang ke sebuah motel kecil di daerah Tebet,
karena ada suatu hal yang penting katanya. Aku saat itu tidak yakin
Tante Ayu ingin mengajakku ‘
bermain‘, karena biasanya Tante Ayu
bilang terus terang (jika ia memang ada di Jakarta) hasratnya memang
butuh pelampiasan. Namun dari tempat pertemuannya aku yakin ia ingin ‘
bermain‘ karena motel tersebut adalah salah satu tempat orang sering bercinta.

Setelah
sampai di Motel R**** (edited), yakni di samping Universitas Sahid
Tebet, aku bertemu Tante Ayu di lobby (yang sangat kecil). Ketika aku
sampai di kamar tante Ayu, barulah aku tahu kenapa ia tidak berterus
terang karena di kamarnya ada tamu, seorang wanita, dan Tante Ayu pun
memperkenalkannya kepadaku, namanya Tante Santi.

Orangnya sangat
cantik, tipe wanita karier. Dengan hidungnya yang mancung, bibirnya
yang sensual, rambutnya yang sebahu, wajah Tante Santi boleh dibilang
benar-benar mirip sekali dengan salah seorang penyiar yang pernah
kulihat di TVRI, kalau tidak salah yang namanya Gina Sonia (mohon
maaf.. ini hanya sekedar perbandingan saja). Selain itu Tante Santi
juga memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, benar-benar menambah
kecantikannya, dan pada saat itulah fantasiku mulai merana, untuk
bermain bertiga yakni aku, Tante Ayu dan Tante Santi.

Singkat
cerita, kami bertiga ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya Tante
Ayu memperingatkan Tante Santi, “Oh iya San, katanya kamu bawa
oleh-oleh buat Sari..” katanya. “Oh iya, aku sampai lupa…” Rupanya
Tante Santi memberikan sebuah hadiah, yang katanya sich sebagai hadiah
perkenalan. Setelah kubuka, rupanya Tante Santi membelikan sebuah gaun
pesta yang indah sekali dengan model bagian atas bahu terbuka, yang
hanya digantung dengan tali kecil. Menurutnya ia membelikan ini atas
saran dari Tante Ayu.

Setelah aku berterima kasih, akhirnya aku
pun disuruh mencobanya di depan mereka. Aku sih menurut saja. Aku mulai
membuka pakaianku, tapi Tante Ayu memaksaku untuk melepaskan bra-ku
juga karena nanti jadi tidak bagus jika memakai gaun itu karena akan
kelihatan, katanya. Sebenarnya aku agak risih juga karena di kamar ada
Tante Santi, namun karena Tante Ayu memaksa (dan memang keinginanku
untuk ML dengan Tante Santi), yah kuturuti saja. Aku membuka bra-ku
sambil membelakangi mereka, namun kurasa Tante Santi juga bisa melihat
buah dadaku lewat cermin besar di depanku. Setelah mencoba gaun itu
beberapa saat, aku pun melepaskannya.

Namun alangkah kagetnya
aku begitu gaunku terbuka, Tante Ayu menarik tanganku dan memelukku
dari belakang sambil menciumi leherku, dan tangannya meremas-remas buah
dadaku. Edan!, masa Tante Ayu melakukan ini di depan temannya sich, aku
benar-benar heran. Sebenarnya aku malusekali dikerjai di depan Tante Santi (walau aku mau), mau protes, tapi nggak bisa, tapi tampaknya Tante Santi tidak terkejut sedikitpun.

Tak
berapa lama Tante Ayu berkata, “Sar.. boleh kan kalau Tante Santi ikut
bergabung..?” Aku yang ketika itu, birahiku sudah naik karena
diperlakukan begitu, hanya mengangguk saja sambil malu-malu. Sambil
tersenyum, Tante Santi pun langsung mendekatiku sambil bilang, “Sar..
boleh kan Tante ikutan…?” Sekali lagi aku hanya mengangguk malu-malu.

Tante
Santi mulai mengecup bibirku, lalu memainkan lidahnya, setelah itu
dijilatinya leherku terus ke bawah ke dadaku, dijilat dan
diisap-isapnya puting susuku, aku menggelinjang-gelinjang kegelian.
Jilatan Tante Santi turun lagi, ke perutku. CD-ku diloloskannya ke
bawah, sementara Tante Ayu tetap memelukku sambil meremas buah dadaku
dari belakang. Tante Santi mengangkat kaki kananku, sehingga pahaku
menumpang di pundaknya, lalu ia mulai menjilat kemaluanku, “Aduh
gelinya..” Dengan semangat Tante Ayu menjilati klitorisku, dan
kadang-kadang dimasukkan lidahnya ke dalam liang senggamaku, menjilati
semua yang ada di dalamnya. “Aaahhh..” aku menggelinjang-gelinjang
kegelian dan keenakan, lututku lemas sekali, aku sampai tak
kuatberdiri, tubuhku serasa melayang, namun Tante Ayu memelukku dari
belakang hingga aku tidak merosot ke bawah. Aku bahkan sampai tidak
dapat merasakan kaki kiriku menyentuh tanah.

Beberapa menit aku
diperlakukan nikmat, namun agaknya Tante Ayu kasihan melihat keadaanku,
lalu digendongnya tubuhku, sambil ketawa-ketiwi mereka berdua
membaringkan tubuhku terlentang di atas ranjang. Aku tidak dapat
mengungkapkan perasaanku, tapi yang jelas karena permainan dihentikan
sementara, aku jadi seperti kebingungan karena birahiku sudah sangat
tinggi, ingin segera dilanjutkan rasanya. Namun mereka tampaknya malah
menurunkan tempo permainan, menggantinya dengan yang lain. Tante Ayu
menjilatiku dari atas, dari wajahku terus sampai buah dadaku. Dan Tante
Santi menjilatiku dari ujung kaki, terus.. ke betisku.. ke pahaku.. dan
akhirnya sampai ke selangkanganku.

Aku rasanya jadi semakin gila
diperlakukan begini. Untunglah mereka tahu akan hal ini, Tante Ayu
kembali meremas-remas, sambil menjilati dan mengisap-isap puting buah
dadaku. Dan Tante Santi kembali menyerang liang senggamaku dengan
buasnya. Dengan buasnya mereka berdua menikmati tubuh mungilku ini.
“Aaahhh…” rasanya seperti melayang di awan. Entah aku tak bisa
berpikir apa saja yang dilakukan mereka kepadaku. Aku hanya bisa
merasakan kenikmatan yang amat sangat, kegelian yang luar biasa enak
dari buah dadaku yang dikerjain Tante Ayu, dan yang terutama dari klitorisku dan dari dalam kemaluanku, yang dikerjain Tante Santi habis-habisan. Seluruh tubuhku rasanya bergelinjang semua.

Akhirnya aku tak kuat lagi menahannya, rasa seperti ingin pipis
tiba-tiba menyerangku, aku ingin menahannya, tapi tak kuat rasanya dan,
“Aaahhggghh..” aku menjerit kuat. Keluarlah semua, nikmatnya selangit,
perasaanku seperti melayang-layang.. “Nikmaaat sekali…” Tante Santi
dengan rakus tampaknya menyedot apa saja yang ada dalam kemaluanku,
sampai tubuhku lemas.

Kemudian aku diberinya istirahat beberapa
menit, tapi kemudian mereka kembali menjalankan aksinya. Tante Santi
mengatakan kepadaku bahwa ia bisa membangkitkan semangatku kembali.
Lagi-lagi aku harus pasrah saja. Sementara Tante Ayu mengusap-usap buah
dadaku, Tante Santi mulai memijat telapak kakiku, aku merasa enak dan
nikmat, lalu tanpa segan-segan, Tante Santi dengan nafsu menciumi dan
menjilati telapak kakiku yang mulus, “Iiihhh.. geli rasanya…”

Setelah
ia puas, aku disuruhnya telungkup. Tante Ayu memijat punggungku, dan
Tante Santi kembali memijat telapak kakiku, terus ke atas.. ke betis..
dan ke buah pantatku. Tiba-tiba dengan nakalnya jari Tante Santi masuk
melalui celah pantatku mengoles bibir kemaluanku, “Aaahhh..!” aku
menjerit kaget, dan mereka kembali ketawa-ketiwi lagi. Lalu melalui
celah pantatku itu tangan Tante Santi mulai membelai-belai kemaluanku
dari belakang, “Aaah.. nikmatnya…”

Mungkin mereka tahu jika
nafsuku sudah bangkit kembali, mereka mulai melakukan permainannya
kembali. Tante Santi bangkit dari tempat tidur, dan mengambil sesuatu
dari tasnya, Wah rupanya peralatan-peralatan perang, rupanya itu adalah
penis karet, lalu ada penis yang ada talinya, dan semacam penis yang
bisa bergetar yang kemudian baru kuketahui namanya vibrator.

“Sar, apa kamu sudah pernah coba pakai yang seperti ini..?” tanya Tante Santi.

“Ng… belum Tante,” sahutku.

Tanpa
basa-basi lagi mereka segera memulai permainan. Mereka berdua
melepaskan seluruh pakaiannya sehingga aku bisa melihat tubuh Tante
Santi yang seksi dan mulus sekali. Kali ini Tante Ayu berbaring di atas
ranjang, namun aku juga disuruhnya berbaring terlentang di atas
tubuhnya, sehingga Tante Ayu bisa dengan leluasa meremas-remas buah
dadaku. Tante Santi mencium lalu melumat bibirku, mengulumnya, dan
memainkan lidahnya. Kemudian ia mulai melanjutkan ke bagian bawah, ke
kemaluanku. Dijilatinya klitoris dan kemaluanku sampai basah. Lalu
diambilnya penis karetnya, digosok-gosokannya dulu ke kemaluanku,
setelah itu baru perlahan-lahan ia mulai memasukannya. “Aaakhh…”
susah juga masuknya, karena walaupun telah basah, tapi memang masih
sempit.

Setelah berhasil masuk setengahnya, Tante Santi mulai
mengocoknya perlahan, makin lama makin cepat, sambil jarinya
mengesek-gesek klitorisku, “Aaaahhh gila enaknya…” Membuatku kembali
orgasme. Namun itu tak menghentikan permainannya, kembali aku
dirangsangnya oleh mereka dengan jilatan-jilatan. Kali ini Tante Santi
rupanya ingin mencoba penis yang ada talinya, sehingga bisa diikat ke
pinggang dan selangkangannya. Aneh dan lucu memang, sepertinya Tante
Santi memiliki penis betulan. Kali ini dikangkangkannya kakiku dan
Tante Santi mulai memasukan penis karetnya ke kemaluanku, dan mulai
memompanya. Kelihatan sepertinya Tante Santi sedangmenyetubuhiku. Ia
terus mengocok kemaluanku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan
erotis, sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kembali orgasme.

Sebenarnya
aku sudah lemas, namun mereka merayuku agar aku mau mencoba alatnya
yang terakhir. (Ah, aku jadi seperti kelinci percobaan, tapi memang
nikmat sich). Dengan rayuannya akhirnya aku mau saja mencoba yang
terakhir, katanya penis yang memakai vibrator. Kembali mereka
membangkitkan birahiku, memang luar biasa sekali pengalaman mereka
tampaknya. Setelah menjilatikemaluanku, Tante Santi mulai memasukkan
penis itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi, kukira seperti tadi saja
rasanya. Tapi begitu penis karet itu sudah masuk semua ke dalam
kemaluanku, Tante Santi mulai menyalakan vibratornya (penggetarnya).
“Aakkkhhh…!” Aku benar-benar tersentak kaget, rasanya geli sekali,
benar-benar dahsyat, apalagi ditambah dengan gesekan jari Tante Santi
pada klitorisku. “Ampuuunnn…” Aku menggelinjang-gelinjang, kelojotan
kesana-sini karena saking tidak tahannya aku, dan rupanya Tante Ayu
yang mendekapku dari bawah sudahmengaturnya, sambil memelukku erat,
kedua kakinya, mengangkangkan kedua kakiku, dan masing-masing kakinya
mengapit masing-masing kakiku, sehingga kakiku tetap terbuka
mengangkang, dan aku tidak bisa mengapitkan kedua pahaku walaupun
sangking gelinya.

Penis itu bergetar di dalam kemaluanku, dan
bahkan bisa berlenggak-lenggok, meliuk-liuk di dalam. “Gilaaaa.. ini
benar-benar kenikmatan yang paling hebat yang pernah kualami. Aku
menjerit-jerit bagai kesurupan, “Aaaakkkhhh.. Tanteee..” Namun semakin
lama Tante Santi malahan semakin cepat mengocokkan penis vibrator tsb
di dalam kemaluanku, dan juga mempercepat gesekan jarinya di
klitorisku. “Aaaakkhhh..! Gilaaa.. Ampuunnn..” aku benar-benar tidak
tahan, perasaan mau pipis yang kali ini muncul sangat dahsyat,
hingga akhirnya tubuhku yang kelojotan tiba-tiba mengejang dengan amat
kuat, dan, “Aaagggkkhhh..” meledaklah kenikmatan yang amat dahsyat,
amat luar biasa, puncak kenikmatan yang tak dapat terlukiskan, dunia
serasa berputar-putar, aku serasa melayang-layang, tulang-tulangku
terasa lolos hingga akhirnya lemas lunglai seperti selembar kertas.

Masih
sempat kulihat mereka berdua bercanda sambil berebutan menjilati cairan
kemaluanku baik yang masih tertinggal di dalam kemaluanku yang dijilat
sambil disedot-sedot, yang berlelehan keluar, bahkan yang berlelehan di
batang penis vibrator itu.

Akhirnya aku tidur dalam pelukan
Tante Ayu dan Tante Santi. Tante Ayu memelukku erat dari belakang, dan
Tante Santi memelukku erat dari depan, sesekali mereka dengan mesra dan
gemas menciumiku. Dengan tubuh yang sangat letih dan lemas, tidur dalam
pelukan mereka rasanya lembut, hangat dan luar biasa. Sungguh
pengalaman yang tak akan pernah kulupakan.

TAMAT                   

Tante Rahayu Dan Temannya

No Comment yet. Be the first to comment on Tante Rahayu Dan Temannya

Leave Your Comment Here!