Suster Dan Pasien

3rd August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1362 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Suster Dan Pasien

Saya seorang pemain bola di kesebelasan
tempat tinggal saya. Karena terjadi tabrakan dengan teman, kaki saya
mengalami patah tulang ringan. Dan saya harus dirawat di rumah sakit.
Saya berada di kamar kelas VIP. Jadi saya bebas untuk melakukan apa
saja. Saya sebetulnya sudah sehat, tetapi masih belum boleh
meninggalkan rumah sakit. Makanya saya bosan tinggal disitu.


Pada
pagi hari ketika saya sedang tidur, saya terkejut pada saat dibangunkan
oleh seorang suster. Gila..! Suster yang satu ini cantik sekali.

“Mas Sony udah bangun ya..? Gimana tadi malam, mimpi indah..?” katanya.

“Ya
Sus, indah sekali. Saya lagi bercinta dengan cewek cantik berbaju putih
Sus..? Dan mukanya mirip Suster lho..!” kata saya menggodanya.

“Ah.. Mas Sony ini bisa aja.., habis ini mas mandi ya..?” katanya lembut.

Lalu
dia membawa handuk kecil, sabun, wash lap, dan ember kecil. Suster itu
mulai menyingkap selimut yang saya pakai, serta melipatnya di dekat
kaki saya. Terbuka sudah seluruh tubuh telanjang saya. Saya dengan
sengaja tadi melepaskan semua baju dan celana saya. Ketika dia melihat
daerah di sekitar kemalua saya, terkejut dia, karena ukuran kelamin
saya serta kepalanya yang di luar normal. Sangat besar, mirip helm
tentara NAZI dulu.

Lalu dia mengambil wash lap dan sabun.

“Sus… jangan pake wash lap.., geli… saya nggak biasa. Pakai tangan suster yang indah itu saja…” kata saya memancingnya.

Suster
itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabuninya seluruh tangan saya.
Usapannya lembut sekali. Sambil dimandikan, saya pandangi wajahnya,
dadanya, cukup besar juga kalau saya lihat. Orangnya putih mulus,
tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri, sekarang ganti tangan
kanan. Dan seterusnya ke leher dan dada. Terus diusapnya tubuh saya,
sapuan telapak tangannya lembut sekali saya rasakan, dan tidak terasa
saya memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.

Sampai
juga akhirnya pada batang kejantanan saya, dipegangnya dengan lembut
ditambah sabun. Digosok batangnya, biji kembarnya, kembali ke
batangnya. Saya merasa tidak kuat untuk menahan supaya tetap lemas.
Akhirnya batang kemaluan saya berdiri juga. Pertama setengah tiang,
lama-lama akhirnya penuh juga dia berdiri keras.

Dia bersihkan juga
sekitar kepala meriam saya sambil berkata lirih, “Ini kepalanya besar
sekali mas… baru kali ini saya lihat kaya gini besarnya. Dikasih
makan apa sih koq bisa gini mas..?” katanya manja.

“Sus… enak dimandiin gini…” kata saya memancing.

Dia
diam saja, tetapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batang
kemaluan saya. Sepertinya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.

“Enak Mas Sony… kalo diginikan..?” tanyanya dengan lirikan nakal.

“Ssshh… iya terusin ahhh… sus… sampai keluar…” kata saya sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.

Tangan
kirinya mengambil air dan membilas batang kejantanan saya yang sudah
menegang itu, kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa kok
diseka pikir saya. Tetapi saya diam saja, mengikuti apa yang mau dia
lakukan, pokoknya jangan berhenti sampai disini saja. Bisa-bisa saya
pusing nantinya menahan nafsu yang tidak tersalurkan.

Lalu dia
dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantanan
saya dijilatinya perlahan. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam
saya. Semilyard dollar… rasanya… wow… enak sekali. Lalu
dikulumnya batang kejantanan saya. Saya melihat mulutnya sampai penuh
rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang
mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju
mundur.

Lama juga saya dikulumi suster jaga ini, sampai akhirnya
saya sudah tidak tahan lagi, dan, “Crooott… crooott…” nikmat sekali.

Sperma
saya tumpah di dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis. Sisa pada
ujung batang kemaluan pun dijilat serta dihisapnya habis.

“Sudah ya
Mas, sekarang dilanjutkan mandinya ya..?” kata suster itu, dan dia
melanjutkan memandikan kaki kiri saya setelah sebelumnya mencuci bersih
batang kejantanan saya.

Badan saya dibalikkannya dan dimandikan pula sisi belakang badan terutama punggung saya.

Selesai acara mandi.

“Nanti malam saya ke sini lagi, boleh khan Mas..?” katanya sambil membereskan barang-barangnya.

Saya
tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum kepadanya. Saya serasa melayang
dan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Terakhir sebelum keluar kamar
dia sempat mencium bibir saya. Hangat sekali.

“Nanti malam saya kasih yang lebih hebat.” begitu katanya seraya meninggalkan kamar saya.

Saya
pun berusaha untuk tidur. Nikmat sekali apa yang telah saya alami sore
ini. Sambil memikirkan apa yang akan saya dapatkan nanti malam, saya
pun tertidur lelap sekali. Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suster yang
tadi lagi. Tetapi saya belum sempat menanyakan namanya. Baru setelah
dia mau keluar kamar selesai meletakkan makanan dan membangunkan saya,
dia memberitahukan namanya, rupanya Vina. Cara dia membangunkan saya
cukup aneh. Rasanya suster dimanapun tidak akan melakukan dengan cara
ini. Dia sempat meremas-remas batang kemaluan saya sambil digosoknya
dengan lembut, dan hal itu membuat saya terbangun dari tidur. Langsung
saya selesaikan makan saya dengan susah payah. Akhirnya selesai juga.
Lalu saya tekan bel.

Tidak lama kemudian datang suster yang
lain, saya meminta dia untuk menyalakan TV di atas dan mengangkat
makanan saya. Saya nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga
semua berita yang ditayangkan tanpa konsentrasi sedikit pun.

Sekitar
jam 9 malam, suster Vita datang untuk mengobati luka saya, dan dia
harus membuka selimut saya lagi. Pada saat dia melihat alat kelamin
saya, dia takjub.

“Ngga salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga..!” demikian komentarnya.

“Kenapa emangnya Sus..?” tanya saya keheranan.

“Oo… itu tadi teman-teman bilang kalau punya mas besar sekali kepalanya.” jawabnya.

Setelah
selesai dengan mengobati luka saya, dan dia akan meninggalkan ruangan.
Tetapi dia sempat membetulkan selimut saya, dia sempatkan mengelus
kepala batang kejantanan saya.

“Hmmm… gimana ya rasanya..?” manjanya.

Dan
saya hanya bisa tersenyum saja. Wah suster di sini gila semua ya
pikirku. Jam 22:00, kira-kira saya baru mulai tertidur. Saya mimpi
indah sekali di dalam tidur saya karena sebelum tidur tadi otak saya
sempat berpikir hal-hal yang jorok. Saya merasakan hangat sekali pada
bagian selangkangan, tepatnya pada bagian batang kemaluan saya, sampai
saya jadi terbangun. Ternyata suster Vina sedang menghisap senjata
saya. Dengan bermalas-malasan, saya menikmati terus hisapannya. Saya
mulai ikut aktif dengan meraba dadanya. Suatu lokasi yang saya anggap
paling dekat dengan jangkauan tangan saya.

Saya buka kancing
atasnya, lalu meraba dadanya di balik BH hitamnya. Terus saya mendapati
segumpal daging hangat yang kenyal. Saya menelusuri sambil
meremas-remas kecil. Sampai juga pada putingnya. Saya memilin putingnya
dengan lembut dan Suster Vina pun mendesah.

Entah berapa lama saya dihisap dan saya merabai Suster Vina, sampai dia akhirnya bilang, “Mas… boleh ya..?” katanya memelas.

“Mangga Sus, dilanjut..?” tanya saya bingung.

Dan
tanpa menjawab dia pun meloloskan CD-nya, dilemparkan di sisi ranjang,
lalu dia naik ke ranjang dan mulai mengangkangkan kakinya di atas
batang kejantanan saya.

Dan, “Bless…” dia memasukkan kemaluan saya pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.

“Aduh.. Mas.., kontolnya hangat dan enak lho… ohhhh…”

Lalu
dia pun mulai menggoyang perlahan. Pertama dengan gerakan naik turun,
lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., suster ini rupanya sudah
profesional sekali. Lubang senggamanya saya rasakan masih sangat
sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan. Mungkin juga
karena saya masih sakit. Lama sekali permainan itu dan memang dia tidak
mengganti posisi, karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi.
Saya tidur di bawah dan dia di atas tubuh saya.

Sampai saat itu
belum ada tanda-tanda saya akan keluar, tetapi kalau tidak salah, dia
sempat mengejang sekali. Tadi di pertengahan dan lemas sebentar, lalu
mulai menggoyang lagi. Sampai tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar,
dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba. Kaget sekali kami berdua,
karena tidak ada alasan lain, jelas sekali kami sedang main. Apalagi
posisinya baju dinas Suster Vina terbuka sampai perutnya, dan BH-nya
juga sudah terlepas dan tergeletak di lantai.

Ternyata yang masuk
suster Vita, dia langsung menghampiri dan bilang, “Teruskan saja Vin…
gue cuman mau ikutan… memek gue udah gatel nich..!” katanya dengan
santai.

Suster Vita pun mengelus dada saya yang agak bidang, dia
ciumi seluruh wajah saya dengan lembut. Saya membalasnya dengan meremas
dadanya. Dia diam saja, lalu saya buka kancingnya, terus langsung saya
loloskan pakaian dinasnya. Saya buka sekalian BH-nya yang berenda tipis
dan merangsang. Dadanya terlihat masih sangat kencang. Tinggal CD minim
yang digunakannya yang belum saya lepaskan.

Suster Vina masih
saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar. Saya lihat dadanya
yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar. Lidah Suster Vita
mulai memasuki rongga mulut saya dan langsung saya hisap ujung lidahnya
yang menjulur itu. Tangan kiri saya mulai meraba di sekitar
selangkangan Suster Vita dari luar. Basah sudah CD-nya, dengan perlahan
saya tarik ke samping dan saya mendapatkan permukaan bulu halus
menyelimuti liang kewanitaannya. Saya elus perlahan, baru kemudian
sedikit menekan. Ketemu sudah klit-nya. Agak ke belakang saya rasakan
semakin menghangat. Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut.
Saya raba sampai tiga kali sebelum akhirnya memasukkan jari saya ke
dalamnya. Saya mencoba memasukkan sedalam mungkin jari telunjuk saya.
Kemudian disusul oleh jari tengah. Saya putar jari-jari saya di
dalamnya. Baru kemudian saya kocok keluar masuk sambil memainkan jempol
saya di klit-nya.

Dia mendesah ringan, sementara Suster Vina
rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya
menggoyang kanan dan kiri. Suster Vita menyibak rambut panjang Suster
Vina dan mulai menciumi punggung terbuka itu. Suster Vina semakin
mengerang, mengerang, dan mengerang, sampai pada erangan panjang yang
menandakan dia akan orgasme, dan semakin keras goyangan pinggulnya.
Sementara saya sendiri mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih
keras dari sebelumnya, karena dari tadi saya tidak dapat terlalu
bergoyang, takut luka saya menjadi sakit.

Suster Vina mengerang
panjang sekali seperti orang sedang kesakitan, tetapi juga mirip orang
kepedasan. Mendesis di antara erangannya. Dia sudah sampai rupanya, dan
dia tahan dulu sementara, baru dicabutnya perlahan. Sekarang giliran
Suster Vita, dilapnya dulu batang kemaluan saya yang basah oleh cairan
kenikmatan, dikeringkan, baru dia mulai menaiki tubuh saya.

Ketika Suster Vita telah menempati
posisinya, saya melihat Suster Vina mengelap liang kemaluannya dengan
tissue yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Vita seakan
menunggang kuda, dia menggoyang maju mundur, perlahan tapi penuh
kepastian. Makin lama makin cepat iramanya. Sementara kedua tangan saya
asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah. Kenyal sekali
rasanya, cukup besar ukurannya dan lebih besar dari miliknya Suster
Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.


Sesekali saya mainkan
putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis, hanya itu jawaban yang
keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja kurasakan, sementara
Suster Vina telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya. Kemudian
dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang Suster Vita dan juga
memainkan rambutku, mengusapnya. Kemudian karena sudah cukup
pemanasannya, dia mulai menaiki ranjang lagi. Dikangkangkannya kakinya
yang jenjang di atas kepala saya. Setengah berjongkok gayanya saat itu
dengan menghadap tembok di atas kepala saya. Kedua tangannya
berpegangan pada bagian kepala ranjang.

Mulai disorongkannya
liang kenikmatannya yang telah kering ke mulut saya. Dengan cepat saya
julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan menarik nafas, “Hhhmmm…”
bau khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya dengan lidah saya yang
memang terkenal panjang. Saya mainkan lidah saya, mereka berdua
mengerang bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat lubang pantatnya
yang merah agak terbuka, lalu saya masukkan jari jempol ke dalam lubang
pantatnya.

Suster Vina merintih kecil, “Auuww… mas nakal deh..!”

Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu, tapi kemudian, “Tuuuttt..!”

Saya kaget, “Suster kentut ya..?” tanya saya.

Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Lalu kembali saya teruskan jilatan saya.

Lama
sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang besar dan
panjang serta mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia mencabut
batang kejantanan saya, sedang lidah saya tetap menghajar liang
kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klit-nya. Dia
menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh klit-nya. Mendengar
desisan Suster Vina sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya, saya
menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya menghabisi dua suster
sekaligus.

“Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama… soalnya ngga sempet istirahat..!” kata Suster Vina.

“Iya dan kayanya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya malem ini.” sahut suster Vita.

“Kalo itu dibuat system arisan saja.” kata Suster Vina sadis sekali kedengarannya.

“Emangnya gue piala bergilir apa..?” kata saya dalam hati.

Malam
itu saya tidur lelap sekali dan saya sempat minta Suster Vina
menemaniku tidur, saya berjanji tiap malam, mereka dapat giliran
menemani saya tidur, tetapi setelah mendapat jatah batin tentunya.
Malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan
sama-sama polos. Sampai jam 4 pagi, dia minta jatah tambahan dan kami
pun bermain one on one (satu lawan satu, tidak keroyokan
seperti semalam). Hot sekali dia pagi itu, karena kami lebih bebas
tetapi yang kacau adalah setelah selesai. Saya merasa sakit karena luka
kaki saya menjadi berdarah lagi. Jadi terpaksa ketahuan dech sama
Suster Vita kalau ada sesi tambahan, dan mereka berdua pun ramai-ramai
mengobati luka saya, sambil masih ingin melihat kejantanan dasyat yang
meluluh lantakkan tubuh mereka semalaman.

Setelah itu, sekitar
jam 5:00, saya kembali tidur sampai pagi jam 7:20. Saya dibangunkan
untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh Suster Vita dan sempat
dihisap sampai keluar dalam mulutnya.

Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.

“Gimana Mas Sony, masih sakit kakinya..?” katanya.

“Sudah lumayan Dok..!” kata saya.

Lalu, “Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya..!”

Dengan
stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang
dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh
menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan batang
kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter
Vivi tahu. Tapi untung dia tidak memperhatikan gerakan di balik selimut
saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya
menekan-nekan ulu hati, semakin membuat batang kejantanan saya
bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik selimut.

“Wah, kenapa kamu ini..? Kok itu kamu berdiri..? Terangsang saya ya..?” katanya.

Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi diselangkangan saya. Aduh!

Lalu dia dengan tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, “Sekarang saya mau periksa kaki mas…” katanya.

Dan, “Opsss… i did it again..!” terpampanglah kemaluan saya yang besar dihadapannya.

Gila! Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.

“Uh, kontol mas besar ya..?” kata Dokter Vivi serasa mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.

Wajah
saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah
lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter
Vivi. Dokter Vivi masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang
kejantanan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji
kembar saya.

“Mmm… mas pernah bermain..?” katanya manja.

Saya menggeleng. Saya pura-pura agar ya…ya…ya….

“Aahhh…” saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.

Lalu
dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir, digelitiknya ujung
kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh kemaluan
saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik itu.
Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya. Terasa geli dan
nikmat sekali.

Dokter Vivi segera melanjutkan permainannya. Ia
memasukkan dan mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya
berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluan saya dengan
dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi
saya.

“Auuh… aahhh…” akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.

Batang
kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulut
Dokter Vivi. Bagai kehausan, Dokter Vivi meneguk semua cairan kental
tersebut sampai habis.

“Duh, masa baru begitu saja mas udah keluar.” Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

“Dok..,
saya… baru pertama kali… melakukan ini…” jawab saya
terengah-engah (kena dia, tetapi memang saya akui hisapannya lebih
hebat dari kedua suster tadi malam). Dokter Vivi tidak menjawab. Ia
mencopot jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat
pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga
celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang
tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik
BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter
Vivi mencopot BH-nya dan memelorotkan CD-nya. Astaga! Sungguh besar
namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau
lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih
menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling
sempurna yang pernah saya lihat selama hidup ini. Saya merasakan batang
kejantanan saya mulai bangkit lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang
teramat indah ini.

Dokter Vivi kembali menghampiri saya. Ia
menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa
mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saya
langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot
puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya ketika menyusu
pada kedua suster tadi malam.

“Uuuhhh… Aaah…” Dokter Vivi
mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilati ujung puting susunya
yang begitu tinggi menantang.

Saya permainkan puting susu yang
memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit
puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat
Dokter Vivi menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tidak lama
kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik ke atas tempat
tidur. Dokter Vivi memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas
tubuh saya yang terbaring telentang di tempat tidur. Perlahan-lahan
dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan saya ke lubang
kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat
kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan saya
sudah masuk 2 cm ke dalam liang senggamanya, ia menurunkan pantatnya,
membuat senjata saya hampir tertelan seluruhnya di dalam lubang
surganya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang
waktu ujung kepala kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter Vivi.
Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter Vivi menambah kualitas
permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya, berputar-putar ke kiri
ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya
berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat
tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang bukan main.

Saya
merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang keperkasaan saya sudah
nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba
menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Vivi
yang liar itu.

Akhirnya, “Aaahh…” jerit saya.

“Ouuhhh..!” desah Dokter Vivi.

Dokter
Vivi dan saya menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir
bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang rahim Dokter
Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya yang masih
kelihatan tegang itu.

Lalu, wajah, mata, dahi, hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, “Terima kasih Mas Sony, ohhh… endanggg..!”

Kami
tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya
melingkar di pinggang saya sambil memeluk tubuh saya dengan hangat. Nah
itulah cerita saya.

TAMAT

Suster Dan Pasien

  • Sang pakar com
  • Suster pamer memek d rumah sakit
No Comment yet. Be the first to comment on Suster Dan Pasien

Leave Your Comment Here!