Paranormal Mesum, Bag 2

3rd August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1616 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Paranormal Mesum, Bag 2

Pratiwi benar-benar gelisah dan
ngeri oleh semuanya ini. Wajahnya yang cantik kelihatan tegang dan di
cuping hidungnya kulihat bintik-bintik keringat menambah keseksiannya.
Melihat aku memandangnya, Pratiwi juga balas memandang tanpa berkedip.

Tiba-tiba
aku bertanya kepadanya, apakah dia percaya bahwa kehidupan seksnya
sangat mempengaruhi pekerjaannya, Pratiwi mengangguk dengan pelan,
kulihat matanya sedikit berkedip seperti kaget. Aku langsung menyambung
pertanyaanku dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak menyangka kalau
itu keluar dari mulutku, karena aku menanyakan apakah dia seorang
lesbian. Di luar dugaanku dia mengangguk, tetapi dia menambahkan bahwa
dia juga suka berhubungan dengan pria. Aku menanyakan kepada Pratiwi,
coba ibu tebak, berapa kira-kira panjang kemaluan saya, karena jika ibu
bisa tepat menduganya, maka berarti saya dapat menangkal masalah ibu.
Pratiwi agak menyeringai mendengar perkataanku itu. Dengan ragu ia
bertanya maksudnya panjang waktu tidur atau waktu berdiri. Aku
menjelaskan yang mana saja pokoknya tepat. Pratiwi terdiam sambil
berpikir keras, aku tahu dia bingung karena saat itu aku duduk di kursi
di belakang meja kantorku, dan akupun memakai pakaian lengkap sehingga
dia tidak mempunyai bayangan apapun tentang penisku.

Tiba-tiba
saja dia meraih penggaris yang ada di mejaku dan merentangkan
jari-jarinya di atas penggaris itu untuk kemudian ditunjukkannya
kepadaku. Aku melihat angka yang tertera di ujung jari Pratiwi, aku
kaget karena di situ tercantum angka 18.5 cm, hampir sesuai dengan
kenyataannya. Pratiwi bertanya apakah itu benar, aku hanya berkata coba
ukur saja sendiri. Aku langsung berdiri memutari mejaku dan mendekati
Pratiwi yang sedang duduk, kubuka celanaku dan kukeluarkan penisku yang
masih lemas itu. Pratiwi melirik penisku dan mengambil penggaris untuk
mencoba mengukurnya, dengan ragu-ragu satu tangannya memegang penisku
sementara yang satunya memegang penggaris. Tentu saja ukurannya tidak
tepat karena masih lemas, seperti yang sudah kuduga, tangan Pratiwi
meremas-remas penisku agar bangun dan mengurut-urut. Kubiarkan saja
semua gerakannya itu, tetapi percuma saja karena penisku tetap tidur
nyenyak.

Tiba-tiba saja ia menundukkan kepalanya dan…,
slep…, penisku sudah terjepit di antara bibirnya yang tebal itu,
terasa hangat dan lembut sekali, kurasakan bibirnya menjepit penisku
dengan gerakan yang lancar meskipun tak sedikitpun Pratiwi membasahi
penisku dengan ludahnya. penisku mulai bangun dan makin lama makin
mengembang, sementara Pratiwi makin lancar mengulumnya, tanganku mulai
bergerak meraba buah dada Pratiwi yang montok dan kenyal itu, tanpa
ragu-ragu tanganku menerobos blousenya dan meremas buah dadanya, tak
kukira bahwa Pratiwi tidak memakai beha, aku dapat merasakan puting
susunya yang kecil tetapi keras seperti batu itu, kuremas-remas
payudaranya, dan kupelintir puting susunya. Rasa geli di sekeliling
penisku membuatku jadi tak tahan lagi, bayangkan sejak tadi aku sudah
terangsang oleh ulah beberapa ibu yang aku temui, maka saat ini rasanya
sudah maksimal dan, syer…, syer…, croot, air maniku memancar keras
sekali dua, tiga dan empat kali memancar memenuhi mulut Pratiwi, tak
sedikitpun Pratiwi melepaskan penisku semuanya masuk di dalam mulutnya
dan saking banyaknya sampai sebagian mengalir keluar dari samping
bibirnya. Aku meremas buah dadanya sekeras-kerasnya Pratiwi diam saja,
dia asyik menelan air maniku.

Setelah dilihatnya aku sudah puas,
Pratiwi mengeluarkan penisku dari mulutnya dan langsung diukurnya
penisku yang masih berdiri itu dengan penggaris. Dia tersenyum ketika
melihat bahwa dugaannya benar. Aku juga tersenyum karena hisapan
Pratiwi yang nikmat itu. Tiba-tiba Pratiwi berdiri, tanpa kuduga ia
mulai membuka pakaiannya sehingga telanjang bulat. Ia berkata bahwa
sekarang saatnya aku memuaskan dia agar jadi seri. Aku jadi bernafsu
lagi melihat tubuh Pratiwi yang luar biasa itu, payudaranya montok dan
kenyal dengan puting yang berwarna merah muda sangat serasi sekali
dengan kulitnya yang putih kekuning-kuningan itu, sementara ketiaknya
juga berbulu lebat, sesuatu yang sangat aku senangi, sedangkan pangkal
paha Pratiwi benar-benar menakjubkan, karena meskipun bulu vaginanya
sangat lebat, tetapi Pratiwi telah mencukur sebagian bulu kemaluannya
sehingga hanya tinggal bagian tengahnya tegak lurus dari pusar sampai
ke bukit vaginanya.

Meskipun saat itu kami masih sama sama
berdiri, Pratiwi tak segan-segan merapatkan tubuhnya dan menciumku
dengan mengeluarkan lidahnya yang hangat menelusuri rongga mulutku,
tanganku dengan lincah mengarahkan penisku ke liang vaginanya yang
tepat menempel di depan penisku itu. Begitu ujungnya menempel, aku
segera menggendong Pratiwi dan menekankan penisku sampai amblas ke
dalam liang vaginanya. Dengan posisi menggendong Pratiwi dan mulut
masih berkutat dengan ciuman aku berjalan menuju sofa. Pratiwi benar
benar pemuas nafsu pria rupanya, karena meskipun dalam posisi yang
sulit yaitu aku menggendongnya dan kakinya menjepit pantatku, dia masih
sempat juga menggerak-gerakan pantatnya untuk memilin penisku yang
sepertinya melengkung karena posisi tubuh kami yang berdiri ini. Begitu
kami roboh di atas sofa, ciuman kami terlepas dan Pratiwi melenguh
sejenak, mungkin dia merasakan enaknya sodokan penisku yang notok
sampai ke liang rahimnya itu.

Tanpa malu malu Pratiwi mengangkat
kakinya tinggi-tinggi dan meletakkannya di atas bahuku. Posisiku jadi
bebas sekali, dengan ringan aku mendayung liang vagina Pratiwi yang
sudah mulai becek itu, dan diapun dengan lincah memutar-mutar pantatnya
mengimbangi tusukan penisku. Kurasakan liang vagina Pratiwi yang peret
dan berpasir itu membuat penisku terasa geli sekali, entah berapa lama
aku memaju-mundurkan pantatku, tetapi Pratiwi masih juga belum mencapai
puncaknya begitu juga diriku sendiri. Kuhentikan gerakanku dan kuminta
Pratiwi untuk menungging agar aku bisa menyetubuhinya dari belakang,
aku benar-benar mata gelap dengan nafsu. Aku tak peduli lagi kalau
mungkin di luar masih ada pasien yang menungguku, yang penting sekali
ini aku harus membuat Pratiwi terpuaskan dan selanjutnya membantu
kesulitannya agar tertanggulangi.

Ketika Pratiwi sudah
menungging, tampaklah vaginanya yang sudah basah kuyup itu di pantatnya
juga banyak bulu vagina sebagai tanda kalau memang bulu vagina Pratiwi
luar biasa tebalnya. Aku langsung menempelkan ujung penisku yang sudah
merah padam itu ke celah vagina Pratiwi dan, “slep…, bloos..”,
penisku amblas sampai hanya tinggal pelirku saja yang menggantung di
luar. Tanganku meraih buah dada Pratiwi dan meremas-remasnya, saat itu
mulai kudengar rintihan Pratiwi mula-mula pelan tetapi makin lama makin
keras dan tiba-tiba kurasakan liang vagina Pratiwi mengejang-ejang dan
hangat sekali. Kurasakan rasa geli dan nikmat yang luar biasa saat itu,
karena jepitan vagina Pratiwi sementara aku merojoknya membuat penisku
seperti diurut. Dan tanpa bisa kutahan lagi akupun ambrol merasakan
nikmatnya vagina Pratiwi, air maniku menyembur menabrak dinding
kemaluannya dan bercampur dengan lendir yang keluar dari vaginanya. Aku
terkulai lemas sementara Pratiwi menggigit pundakku karena menahan rasa
nikmat dan agar tidak sampai berteriak karena rasa nikmat tadi.

Dalam
keadaan masih gemetar, aku segera memakai pakaianku kembali begitu juga
dengan Pratiwi, wajahnya semeringah dan tersenyum terus. Aku
berpura-pura seperti tak ada apa-apa dan setelah kami berdua duduk
berhadapan, aku memanggil Mery masuk. Mery tersenyum melihat wajahku
yang mungkin kentara kalau habis main seks itu. Aku minta dibuatkan
minum dan Mery dengan patuh membuatkan minuman buat kami berdua. Bagiku
masalah Pratiwi bukan hal yang sulit dengan bermeditasi sejenak aku
sudah berhasil menyelesaikan masalahnya, karena ada bapak pejabat yang
pernah ditolak olehnya untuk berhubungan intim rupanya sakit hati dan
selalu mempersulit Pratiwi. Aku katakan pada Pratiwi bahwa bapak itu
sekarang sudah berubah tetapi sebaiknya Pratiwi jangan sekali kali
memberi dia kenikmatan karena berbahaya. Pratiwi mengangguk manja dan
ketika mau pulang dia sempat mencium bibirku lama sekali. Aku berjanji
pada Pratiwi untuk sekali kali makan siang dengannya tentu setelah itu
kita juga perlu kenikmatan seks

TAMAT                   

Paranormal Mesum, Bag 2

No Comment yet. Be the first to comment on Paranormal Mesum, Bag 2

Leave Your Comment Here!