Paranormal Mesum, Bag 1

17th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1662 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Paranormal Mesum, Bag 1

Profesiku yang sebenarnya adalah
pengacara, tetapi belakangan ini aku lebih dikenal sebagai seorang
paranormal yang sanggup untuk memecahkan masalah-masalah yang sulit
termasuk menyembuhkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh gangguan
psikis. Sebenarnya ini semua hanya bermula dari keisenganku menggoda
isteri temanku yang kukira sedang kesepian. Aku mencoba membohonginya
dengan membaca beberapa ciri khas di tubuhnya demi untuk dapat
menidurinya, tetapi di luar dugaanku ramalanku ternyata cocok, dan
tanpa menceritakan affairku dengannya ternyata Evie sudah menceritakan
kemampuanku ini pada semua kenalannya, sehingga aku menjadi seperti
saat ini, paranormal! Aku sangat menikmati kemampuan baruku ini,
meskipun tidak pada setiap orang aku berani mengganggunya, tetapi
anehnya hampir semua klienku bersedia menuruti permintaanku tanpa
rewel, cuma seperti yang kukatakan, tak semuanya aku tiduri!

Seperti
siang ini, di kantorku sudah ada beberapa wanita menungguku, ketika aku
datang, aku sempat tersenyum kepada mereka dan memandang mereka satu
persatu. Semuanya rata-rata perempuan kaya dan cantik, tetapi ada
seorang ibu yang kelihatan anggun dengan tubuh yang tinggi besar sangat
sesuai dengan seleraku. Di meja kerjaku kulihat berjajar empat lembar
kartu kecil bertuliskan nama-nama pasienku, kartu ini dibuat oleh
sekretarisku Mery. Kubaca satu persatu tetapi aku tak dapat menduga
mana kartu ibu yang kuinginkan itu, sehingga kupanggil Mery untuk
memanggil mereka satu demi satu. Mery sudah menjadi sekretarisku selama
3 tahun, jarang ada sekretarisku yang tahan begitu lama, karena
rata-rata mereka cantik sehingga mereka laku keras untuk kawin. Mery
seringkali juga memuaskan nafsuku, terutama bila aku sedang iseng di
kantor ini, kami sering main di meja kerja, di kursi bahkan di kamar
mandi, semuanya kami lakukan dengan diam-diam tanpa ada seorangpun yang
curiga. Lennypun tahu dengan jelas hobbyku main cewek, bahkan
seringkali dia kusuruh mengintai manakala aku berhubungan seks dengan
klienku dan biasanya setelah itu, Mery juga minta jatah karena dia tak
dapat menahan nafsunya sendiri.

Mery dengan gayanya yang anggun
dan alim segera memanggil salah satu dari tamuku, ketika si ibu masuk
ternyata bukan ibu yang kuinginkan melainkan seorang ibu muda yang
kelihatan genit tetapi wajahnya kelihatan kalau dalam keadaan sumpek.
Kuperhatikan tubuhnya dari jauh, ia memakai blus tanpa lengan sehingga
memamerkan lengannya yang mulus sementara tubuhnya langsing dengan
pantat yang besar. Bibirnya agak tebal dan wajahnya cantik sekali. Ia
langsung menyalamiku dan memperkenalkan namanya Ria, rupanya ia lebih
senang dipanggil dengan nama kecilnya daripada dengan nama suaminya,
aku yakin dia sudah bersuami karena sempat kulihat cincin kawin berlian
yang melingkar di jarinya. Setelah berbasa-basi sejenak Ria segera
menceritakan masalahnya kepadaku, rupanya dia sedang dalam kesulitan
karena hobbynya bermain judi. Meskipun judi dilarang di Jakarta ini,
tetapi ia berjudi melalui jaringan parabola, katanya dia dulu menang
cukup banyak tetapi sudah dua bulan ini dia terus-menerus sial sehingga
hampir semua hartanya sudah habis. Saat ini dia takut kalau suaminya
tahu dan dia akan diceraikan.

Aku tersenyum mendengar ceritanya
ini, bagiku ini kasus biasa dan mudah, pasti beres. Tanpa membuang
waktu aku menanyai Ria apakah menjelang dia kalah terus itu dia pernah
melakukan sesuatu yang kurang baik, dia menyatakan rasanya kok tidak
pernah, karena katanya kalau dia menang maka dia selalu baik kepada
orang lain. Aku berkata kepadanya bila memang begitu maka kemungkinan
sialnya ada di badannya dan aku harus mencarinya dan kemudian
menangkalnya. Tanpa ragu kusuruh ia membuka pakaiannya dan telanjang
bulat di depanku. Ria memandangku dengan tajam dan kemudian dia bangkit
dan mulai melepas pakaiannya. Diluar kebiasaan yang aku ketahui, yang
pertama dibuka Ria adalah roknya dan kemudian celana dalamnya sehingga
aku langsung dapat melihat vaginanya yang dihiasi bulu vagina yang
hitam, baru kemudian dia membuka blus dan BH-nya. Seperti dugaanku
payudara Ria tidak terlalu montok tetapi mengkal dan bulat dengan
pentil merah muda.

Dalam keadaan telanjang bulat Ria berdiri
mematung di depanku kakinya rapat dan tangannya terlipat di perutnya.
Kusuruh ia berputar sehingga aku juga dapat melihat pantatnya yang
montok itu, benar-benar seksi. Dari apa yang kulihat aku langsung
menyuruhnya duduk di depanku. Kukatakan bahwa aku sudah tahu dimana
letak sialnya yaitu dari paha kanannya. Aku katakan bahwa semuanya
sudah beres. Ria rasanya tidak percaya kalau aku mengatakan seperti
itu, dia minta agar aku membuktikan kata-kataku itu. Dengan ngawur aku
minta dia mencabut bulu vaginanya sendiri secara sembarangan, Ria
menuruti permintaanku itu dan meletakkan bulu vaginanya di mejaku.
Kusuruh ia menghitungnya ternyata jumlahnya 3 lembar, kusuruh ia
mencabut sekali lagi dan kali ini jumlahnya 4 lembar. Kuminta dia untuk
memasang taruhan diangka 34 atau 43 dan buktikan sendiri. Baru saat itu
Ria bisa tersenyum, ia mengucapkan terima kasih dan segera kuminta ia
berpakaian kembali. Selesai merapikan pakaiannya, Ria menjabat tanganku
erat-erat dan mengatakan terima kasih. Aku mengangguk ramah, dan aku
yakin bilamana saat itu aku minta dia untuk menghisap penisku pasti dia
dengan senang hati mau melakukannya, tetapi aku punya target lain.

Ketika
Ria keluar seorang ibu menyusul masuk, lagi-lagi bukan ibu yang
kuinginkan kali ini seorang ibu berumur sekitar 40 tahunan, wajahnya
cantik tanpa polesan make up yang menyolok, ia memperkenalkan dirinya
sebagai Ibu Sugito, seorang pejabat penting yang pernah kudengar
namanya. Ia langsung bercerita kalau suaminya punya simpanan wanita
yang hebat sehingga dia merasa sedih sekali. Meskipun sejak dulu dia
tahu kalau suaminya sering main perempuan, tetapi baru kali ini dia
kecantol dengan pacarnya. Aku langsung mengatakan bahwa aku harus
melihat tubuhnya agar bisa melihat di mana letak masalahnya. Mulanya
ibu ini agak keberatan dia bertanya apakah tidak bisa kalau hanya
dengan melihat wajah atau bagian lain yang terbuka. Aku hanya berkata
enteng, kalau ibu percaya pada saya silakan, kalau tidak silakan juga
kembali karena hanya itu caraku memeriksa pasien.

Dengan hati
berat dia mulai membuka pakaiannya, pertama yang dibukanya adalah
jacket ungunya, ketika ia melepaskan jacket itu aku sempat melihat
ketiaknya yang lebat dengan bulu, aku sempat tertegun melihatnya karena
bila ketiaknya saja seperti itu alangkah lebat bulu vaginanya. Payudara
Bu Sugito montok tetapi sudah agak kendur dengan pentil coklat kehitam
hitaman, ketika ia membuka roknya, kembali ia ragu. Gerakannya terhenti
sementara ia berdiri dengan hanya memakai celana dalam tipis berwarna
putih yang jelas sekali menampakkan bayangan bulu vaginanya yang hitam
dan lebat itu. Aku sengaja mendiamkannya karena aku mau melihat apa
yang dimaui ibu ini, tetapi aku sudah merencanakan bahwa ibu yang satu
ini akan aku periksa habis-habisan biar dia kapok.

Akhirnya Bu
Sugito jadi juga membuka celananya sehingga terpampanglah di hadapanku
tubuhnya yang mulus dengan bulu yang sangat lebat di pangkal pahanya
serta di ketiaknya. Dari yang aku lihat ini aku langsung tahu bahwa ibu
ini hiperseks. Jadi aku heran juga kenapa dia begitu ragu-ragu untuk
telanjang di hadapanku, hal ini membuatku jadi ingin mengetahui
sebabnya. Ibu Sugito hanya berdiri mematung di depanku tangannya
berusaha menutupi pangkal pahanya. Aku langsung berdiri dari kursiku
dan berjalan mendekatinya, aku memutari tubuhnya yang bersih dan harum
itu, tetapi tak ada sesuatu yang janggal. Tanpa ragu kusuruh dia duduk
di sofa yang ada di ruang kerjaku dan kubaringkan. Dengan pelahan aku
merentangkan kakinya sehingga aku dapat melihat vaginanya yang penuh
bulu itu, karena bulunya sangat lebat, terpaksa aku menyibakkannya
sehingga dapat kulihat bibir kemaluannya. Aku agak kaget ketika kulihat
liang vagina Ibu Sugito ini begitu lebar dan bibirnya menjuntai keluar.
Rupanya Ibu Sugito senang masturbasi dengan alat-alat sehingga liangnya
jadi molor seperti ini.

Aku langsung menanyakan hal ini
kepadanya dan dengan malu-malu dia mengiakan dugaanku. Untuk menangkal
masalahnya, aku minta Ibu Sugito untuk saat itu juga melakukan
masturbasi di depanku, dengan ragu-ragu ia berdiri dan mengambil
handbagnya, dari situ ia mengeluarkan sebuah alat mirip penis yang
berwarna coklat, setelah itu dia duduk lagi dan mengambil posisi
seperti jongkok untuk kemudian penis karet itu dimasukkannya ke dalam
liang vaginanya sampai amblas tinggal pangkalnya saja. Setelah itu dia
memutar-mutar pantatnya di atas penis karet itu sambil memejamkan
matanya. Aku sendiri jadi tak tahan melihat pemandangan ini, akupun
duduk di depannya dan kukeluarkan penisku yang langsung juga
kukocok-kocok mengimbangi Bu Sugito yang sedang asyik, Bu Sugito jadi
kaget ketika melihat aku mengeluarkan penisku yang begitu panjangnya,
gerakannya terhenti memandang penisku yang 18 cm itu. Ternyata dia
berani juga menanyakan mengapa kok tidak penisku saja yang dimasukkan
vaginanya agar benar-benar nikmat, aku mengatakan bahwa aku tidak boleh
melakukan itu. Kuminta dia agar segera berusaha mencapai puncak
kenikmatannya.

Rupanya Ibu Sugito tidak tahan melihat tanganku
mengelus-elus penisku sendiri yang tegak lurus seperti tiang bendera
itu. Ia mulai merintih makin lama makin keras dan akhirnya ia mengejang
mencapai kepuasannya. Dasar hiperseks, ketika ia melepas penis
karetnya, tangannya ikut-ikutan meremas penisku dengan lembut. Aku
berkata kepadanya bahwa aku mau memasukkan penisku ke vaginanya asal
aku tidak melakukan gerakan apapun. Ibu Sugito mengangguk dan akupun
segera mengarahkan penisku ke antara selangkangan Bu Sugito yang sudah
merentangkan kakinya lebar-lebar itu. Sekali tekan penisku masuk
separuh dan ternyata aku tidak bisa menghabiskan seluruh penisku ke
dalam liangnya. Aku benar-benar heran, karena dengan penis karet yang
begitu besar dia sanggup menelannya sampai habis, tetapi kenapa penisku
kok hanya masuk tiga perempatnya. Aku tidak peduli, sementara Ibu
Sugito sibuk memutar-mutar pantatnya agar dia dapat mencapai orgasme
lagi. Memang benar sekitar 5 menit dia merintih keras dan kurasakan
cairan hangat membasahi ujung penisku. Tanganku segera meraih interkom
dan kupanggil Mery agar masuk.

Ketika Mery memasuki ruanganku,
Ibu Sugito jadi kaget dan berusaha menutupi tubuhnya, tetapi Mery tak
peduli, dia langsung mendatangiku yang duduk di kursi. Aku minta Mery
untuk mengambil tisue basah dan membersihkan penisku yang masih gagah
itu dengan tisue. Mery dengan sigap mengeringkan cairan vagina Ibu
Sugito yang ada di penisku sementara aku diam saja di atas kursi,
ketika semuanya sudah kering dan bersih, Mery tanpa sungkan sempat
mengulum ujung penisku serta meremasnya sebelum dia masuk lagi ke
ruangannya. Aku langsung kembali ke tempat dudukku dan segera kuberikan
penangkal tambahan untuk masalah Ibu Sugito ini, aku yakin bahwa dalam
waktu 1 minggu suaminya akan kembali kepadanya, karena sebenarnya Ibu
Sugito sangat pandai memuaskan suaminya hanya saja mungkin belakangan
ini dia terlalu sering main sendiri sehingga dia jadi lengah.

Bersambung ke bagian 02

Paranormal Mesum, Bag 1

No Comment yet. Be the first to comment on Paranormal Mesum, Bag 1

Leave Your Comment Here!