Oh Mbak Sus

21st July 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1272 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Oh Mbak Sus

Seperti sebagian besar teman senasib,
saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan
dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya
sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung
terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya
terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya
kos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun
sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi
saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga
tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan
tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kos
memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi
memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah
melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak
mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima
anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng
memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah
memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.

“Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.

“Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu.

“Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus.

“Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi.

“Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus.

“Kalian
saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua,
atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata
Robin.

“Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya.

Robin
tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia
mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan
payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap
usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di
depan kita”

“Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu”, sergah Heri yang sejak tadi diam.

“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti”

Diam-diam
ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan
tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami
agar ada yang masuk perangkapnya?

Selama setahun kos diam-diam
aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa tersadari sering
membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti
sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang
kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan
berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah
betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan
penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah
perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak
Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat
perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri
pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.

“Wah… maaf, Mbak. Nggak sengaja…” kataku sambil tersipu malu.

“Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.

Dari
situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati
kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan
kehidupan seksualnya bersama suaminya.

Makin lama aku bertambah
berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma
tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi
tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai
berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya
cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri
telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut.
Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya
yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan
lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam
ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara
dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu
hari ketika rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan
keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di
luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia
di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya
soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian
aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

“Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lo”, kataku.

“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.”

“Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?”

“Coba apa…”

“Itu…”

“Mana?”

Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.

“Ah… kamu ini.”

Reaksinya
makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang
kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang
putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah,
kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di
bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku
tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.

“Dik… malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah.

“Kalau begitu kita ke kamar?”

“Kamu ini nakal”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.

“Mbak…”

“Hmm…”

“Bolehkah mm…, bolehkah kalau saya…”

“Apa hh…”

“Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?”

“Hmm…” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.

Tanpa
menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya.
Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua
payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat.
Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke.
Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

“Dik, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa
disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu
agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus.
Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan
kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak
menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya
tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan
klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus
menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai
di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

“Mbak belum pernah dioral ya?”

“Apa itu?”

“Vagina Mbak akan kujilati.”

“Lo itu kan tempat kotor…”

“Siapa bilang?”

“Ooo…
oh.. oh …”, desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main
di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana
dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan.
Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan
dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya
ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir
vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan
melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus
mengangkat-angkat pinggulnya.

“Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh…”

“mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm…” jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak.

“Sst ada tamu Mbak”, bisikku.

“Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.

Aku
segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang
lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam.
Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku
tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada
yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa
patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua
menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.

“Siapa Mbak?”

“Tukang koran menagih rekening.”

“Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat…”

“Sudahlah”, katanya sambil mendekati aku.

Tanpa
sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh
celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal,
meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya.
Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus
seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan.
Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.

“Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.

Aku
tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang
tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini
dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah
kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan
putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.” Mbak Sus
pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku
yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke
ranjang, berguling-guling, saling menindih.

“Mbak mau saya oral lagi?” tanyaku.

Mbak
Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari
pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku
menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan
jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan
pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami
menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan
penisku ke mulutnya.

“Gantian dong, Mbak”

“Apa muat segede itu….”

Tanpa
menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil.
Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri
sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak
tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku.
Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Sorry ya Mbak”

“Ah kau ini mainnya aneh-aneh.”

“Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya.

“Ah malu. Kami main konvensional saja kok.”

“Langsung tusuk begitu maksudnya…”

“Nakal kau ini”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.

“Suami Mbak mainnya lama nggak?”

“Ah…” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.

“Pasti Mbak tak pernah puas ya?”

Mbak
Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah.
Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal
atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah
kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran
sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah
ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku
yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus
vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar.

“Ohh…” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.

Setelah
seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas
tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan,
dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit
setelah kugenjot Mbak Sus menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku.
Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku
kutingkatkan.

“Ooo… ahh… hmm… ssshh…” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.

Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.

“Enak Mbak?” tanyaku.

“Emmhh…”

“Puas Mbak?”

“Ahh…” desahnya.

“Sekarang Mbak berbalik. Menungging.”

Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.

“Gaya apa lagi ini?” tanyanya.

“Ini gaya anjing. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah.”

Setelah
siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus
kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang
mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia
orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

“Capek?” tanyaku.

“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.”

“Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Kita lanjutkan nanti malam saja ya.”

“Ya
deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar
spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang
di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan
dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku
masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama
genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama
goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut
bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan
dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku
belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus
kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku
meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.

“Oh Mbak… aku mau keluar nih ahh…”

Tak
lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian
menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya
begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi
relaksasi seperti itu.

“Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.

“Penismu juga nikmat, Dik.”

“Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.”

“Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu.”

Kami
berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas
merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

Oh Mbak Sus

No Comment yet. Be the first to comment on Oh Mbak Sus

Leave Your Comment Here!