Lucky Man

2nd October 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1184 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Lucky Man

Aku sering bilang, “Jangan bergerak dong Say, nanti orang lain curiga…”

Dia
menurut, tetapi hanya sebentar. Tidak lama dia goyang lagi. Kalau lagi
keenakan, dia sering lupa tugasnya, yaitu mengocok senjataku. Tapi
tidak apa-apa. Aku tidak pernah ejakulasi di dalam bioskop.
Satu-satunya yang bisa membuatku ejakulasi ialah memasukkan batang
kemaluanku ke liang senggamanya.

Setelah beberapa menit (mungkin
5 sampai 10 menit), dia menunjukkan gelaja mendekati orgasme. Dia
merintih-rintih seperti mau menangis. Kalau sudah begitu, langsung saja
mulutnya kututup dengan telapak tangan yang satu lagi. Aku terus
menggosok klitorisnya. Makin cepat, makin cepat. Rintihannya semakin
kencang. Tiba-tiba dia menggigit lengan atasku. Pahanya dirapatkan,
sehingga tanganku terjepit. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya. Setelah
itu (sekitar 30 detik dari orgasme), dia menyuruhku menarik tanganku
keluar.

“Say.., udah ya..?”

Begitu keluar, whuaaa.., aroma
khas kewanitaannya menjalar kemana-mana. Kusuguhi jariku ke hidungnya.
Dia hanya cium sebentar, tapi terus langsung menghindar. Aku jadi ingin
jahil, nih. Kutempelkan tanganku ke mulutnya dengan dua tangan. Jadi
mau tidak mau, dia harus menghirupnya, lalu dia jadi kelojotan.
Tangannya memukul-mukul pahaku.

“Idih.., kamu nakal dech..!”

Wah,
pokoknya kalau ada yang melihat, pasti menyangka aku mau memperkosanya
di dalam bioskop. Karena dia meronta keras, akhirnya lepas juga deh
tanganku. Cepat-cepat dia mengambil tissue basah, lalu mengelap jariku
satu persatu. Aroma wangi menyebar mengusir bau ikan busuk sialan itu.

Setelah
film selesai dan lampu dinyalakan, aku menunduk pura-pura membetulkan
tali sepatu. Sengaja aku dan dia keluar belakangan. Dari situ kami ke
WC wanita. Aku menunggu dia di luar. Setelah itu kuantar pulang dia ke
rumahnya. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah. Tetapi dalam
perjalanan, HP-ku berbunyi. Ternyata teman-temanku mengajak ke pub. Aku
langsung berbalik arah, menuju ke pub yang ditunjuk temanku.

Sampai disana, teman-temanku sudah tiba lebih dulu rupanya. Setelah itu kami masuk ke dalam. Selama disitu, aku hanya minum soft drink saja, jadi otakku masih segar dan normal, sedangkan teman-teman yang lain penuh dengan alkohol.

Selama
aku duduk disitu, aku melihat ada cewek bule yang cukup menarik,
mendekatiku dan mengajak joget, aku sih oke-oke saja. Kami joget dari
yang hot sampai yang soft. Dia sudah terlihat agak mabuk karena dari
tadi kulihat dia minum wine cukup banyak. Waktu lagu yang diputar cocok untuk slow dance, dia memegang dan merangkulku untuk slow dance,
aku awalnya agak kikuk juga karena tidak menyangka akan dipeluk oleh
dia. Waktu kutanya, namanya Sandra. Dia ternyata bisa bahasa Indonesia
dengan lancar untuk kategori orang bule.

Sandra memakai celana
panjang putih yang agak tipis dan celana dalamnya sering terlihat
membekas dari belakang maupun dari depan. Aku perhatikan celana
dalamnya selalu yang berbentuk g-string, sampai belahan pantatnya
selalu terlihat samar-samar dan tali celana dalamnya terjepit di antara
belahan pantatnya. Dari depan sangat terlihat garis celana dalamnya dan
aku tidak melihat gunung yang besar. Dalam bayanganku, pasti bulu
kemaluannya tidak tebal. Gundukan buah dadanya sangat jelas terlihat.
Sandra termasuk kecil untuk ukuran orang bule, kira-kira tingginya 165
dan badannya juga termasuk kecil.

Pelukan Sandra terasa cukup
kuat dan benjolan di dadanya terasa menekan dadaku, rupanya buah dada
Sandra cukup padat dan keras. Aku tidak merasakan BH yang menutupi buah
dada Sandra. Kami berbicara hal-hal yang biasa saja, tidak pernah
menyentuh tentang seks.

Terasa tangan Sandra mengusap-ngusap
punggungku dan kami berdansa dengan sangat intim, kepalanya disandarkan
di pundakku dan bau parfumnya sangat menggoda. Aku merangkul dia dan
hanya merangkul saja tidak berani bertindak lebih jauh lagi. Kami
berdansa beberapa lagu dan aku merasakan pelukan Sandra menjadi lebih
keras, tangannya turun ke pinggangku dan menarik badanku agar lebih
dekat ke badannya. Celana jeans yang kupakai tidak dapat menahan
dorongan dari “Si Otong” di dalam. Dan tanpa terasa, sudah mulai
membesar dan ini membuat kondisinya sangat tidak nyaman, karena “Si
Otong” tertekuk ke bawah. Aku bisa merasakan “Si Otong” menekan
kemaluan Sandra, dan ini yang membuat dia lebih menekan ke dalam lagi.

Sandra pasti merasakan bahwa batang kejantananku sudah mulai menegang dan dia melihat ke arahku sambil tersenyum nakal.

Aku mulai memberanikan diri sambil berkata, “Lihat, apa yang kau lakukan, Sayang..?”

Dia dengan polos sambil tersenyum berkata, “Apa yang yang kuperbuat? Aku tidak berbuat yang buruk kepadamu kan..?”

Lalu kubilang, “Saya tidak bilang buruk, mengapa kamu berpikiran seperti itu..?”

Dia hanya tersenyum saja. Terus kubilang, “Saya yakin kamu pasti merasakan akibat yang kau lakukan.”

Sandra tersenyum dan bilang, “Saya menikmatinya dan apakah saya harus lebih keras menekannya..?”

Kubilang, “Seharusnya sayalah yang menekan lebih keras ke kamu.”

Kemudian dia berbisik ke telingaku sambil bilang, “Maukah kamu menekan lebih keras dan lebih dalam lagi..?”

“Siapa takuuttt… Where and how..?” kataku.

Dia hanya tersenyum dan bilang, “Ayo kita keluar dan pamitan sama yang lainnya.”

Kami kemudian pamitan dengan teman-teman lainnya dan pergi keluar.

Kutanya ke Sandra, “Kita mau kemana sekarang, Sayang..?”

“Bagaimana kalau ke hotelku saja..?” kata Sandra.

Aku hanya bisa bilang, “My pleasure, darling.” sambil merangkulnya.

Jarak
dari pub ke hotelnya hanya sekitar 5 menit jalan dan waktu itu jam
sudah kira-kira jam 12:30 malam, angin cukup kencang dan dingin sekali.
Aku memakai jaket dan Sandra hanya memakai sweater saja.

Kutanya apa
dia merasa dingin, jawabnya, “Walupun diluar saya kedinginan, tapi
hangat rasanya di dalam, dan saya yakin akan lebih hangat lagi
nantinya, dan kamu pasti juga begitu.”

Omongan kami menjurus ke arah seks dan ini membuatku tambah terangsang saja.

Sampai
di hotel, kami langsung masuk ke kamar, dan kulihat kamarnya cukup
rapih dan teratur, baunya juga seharum yang punya. Kubilang kepada
Sandra kalau aku mau ke WC dulu. Waktu selesai, kulihat Sandra sudah
tiduran di tempat tidur dengan baju yang masih lengkap. Lalu dia
menawarkan minum dan aku menolak.

Kubilang, “Saya sudah cukup banyak minim di pub tadi, silakan kalau kamu mau minum lagi.”

Aku
mendekatinya dan berdiri di depan ranjang itu, Sandra terus
mendekatiku. Lalu sambil tiduran dia memegang reitsleting celanaku dan
mulai meraba-raba dari luar, saat itu kemaluanku sudah mulai kecil,
tapi rabaan Sandra membuat batang kejantananku menjadi mengeras lagi.

Sandra
menarik reitsleting celanaku dengan mudah, karena aku tidak memakai
ikat pinggang dan t-shirt tidak kumasukkan ke dalam, celanaku
diturunkan ke bawah oleh dia dan batang keperkasaanku terasa sedikit
bebas, tapi masih tertekuk ke bawah. Tangannya masuk ke dalam CD-ku dan
mulai menarik rudalku ke atas. Batangku terasa sangat keras, dan
terlihatlah cairan di ujung senjata kemaluanku dan sangat terasa basah.
Sandra pindah posisi, dan sekarang dia duduk di ujung tempat tidur
tepat di depan rudalku. Dia melihat ke arahku dan kemudian mengeluarkan
lidahnya sambil menjilat ujung batang kejantananku.

Aku
merasakan geli dan enak, dengan mendadak dia memasukkan seluruh
kemaluanku ke dalam mulutnya, bibir dan mulutnya cukup kecil. Terasa
batang kejantananku menyentuh tenggorokan dia dan masih terus dia
tekan. Tenggorokan dia mengecil dan sangat terasa di ujung kemaluanku.
Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua burungku
ditelan oleh Sandra, lidahnya menjilat bagian bawah kejantananku dan
bibirnya dibesar-kecilkan. Burungku kemudian dikeluar-masukkan, tapi
tetap masuk seluruhnya ke tenggorokan dia. Persis seperti lagi
dimasukkan ke dalam liang senggama saja, hanya bedanya kalau ini ada
tulang yang mengeras di ujung tenggorokan.

Setelah beberapa lama
dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji
kembarku dan tangan yang satu lagi dimasukkan ke dalam lubang pantatku,
terasa aku sudah mau keluar.

Kubilang sama dia, “Saya mau keluar, darling..”

Dia keluarkan rudal panjangku dan bilang, “Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum.”

Batang
kemaluanku dimasukkan lagi dan sekarang dia memasukkan dengan lebih
dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk,
spermaku keluar di dalam mulut Sandra, dan langsung ke dalam
tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang
pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku
benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Baru sekali ini aku
dimasuki dan jari di pantatku. Sperma terakhir dari burungku ditelan
oleh Sandra, dan aku tidak melihat satu tetes pun keluar dari bibirnya.
Yang aneh dia tidak terlihat tersendak karena kejantananku dan
spermaku. Perlahan-lahan dia keluarkan kemaluanku dan mengulumnya
dengan bibirnya.

“Kamu suka dengan apa yang kulakukan kepadamu, Darling?”

Kubilang,
“Sejujurnya saya belum pernah mengalami perasaan nikmat seperti ini
sebelumnya, you really did a good blow job and I loved it. Thank’s..
darling.”

Sandra terus tiduran dan menarikku untuk berbaring di
sampingnya, masih dengan baju yang lengkap kecuali sweater, celana
kulepaskan, demikian juga CD-ku. Sandra kucium dan tidak terasa sedikit
pun rasa sperma di mulutnya, benar benar bersih. Bibirnya yang tipis
khas orang bule dan tidak besar dan lebar enak untuk dicium.

Sandra bilang, “Saya suka mencium bibirmu, bibirmu tebal dan rasanya enak.”

Memang
aku punya bibir cukup tebal dan seperti orang Asia lainnya, biasanya
bibir kita lebih tebal dibandingkan dengan bibir orang bule.

Aku
mengulum bibirnya dan biasanya kalau aku sudah keluar, tidak bisa
dengan cepat untuk terangsang lagi. Tapi saat itu aku bisa terangsang
lagi, kaos Sandra kuangkat ke atas dan dilepas, dugaanku benar bahwa
Sandra tidak pakai BH. Duah dadanya terlihat padat dan kenyal, tidak
besar dan tidak kecil. Aku tidak tahu berapa ukurannya, tapi sangat
bagus terlihatnya, kulitnya yang putih dan mulus tidak seperti kulit
orang bule yang biasanya berpori-pori besar. Sandra dalam hal ini
mempunyai pori-pori kecil, putingnya berwarna merah muda dan aerola-nya
juga merah. Kukulum putingnya sambil meremas buah dadanya. Dia
mengerang sambil mengusap kepalaku dan sekali-kali menjambak rambutku
kalau putingnya kugigit kecil. Dengan sangat mudah buah dadanya menjadi
merah karena kuhisap.

Tanganku turun ke bawah dan membuka
resleting celana dia. Saya turunkan sedikit dan terlihat CD-nya yang
berwarna putih dengan renda di atas dan di pinggirannya. Terus
kususupkan tanganku ke dalam CD-nya dan mulai meraba mound dan
bulu kemaluannya. Seperti yang kubayangkan sebelumnya, bulu kemaluan
Sandra tidak tebal dan hampir tidak telihat, karena berwarna pirang
seperti warna rambutnya.

Jariku menyentuh ujung dari klit dia
dan terasa kulitnya tebal dan klitnya sudah menonjol. Jariku sudah
terasa basah. Kuusap-usap perlahan-lahan klitnya sambil saya
tekan-tekan sedikit. Setiap kali kutekan, kugigit pelan puting buah
dadanya, dan Sandra pasti mengerang dan menjambak rambutku sambil
menekan kepalaku ke payudaranya. Jariku menelusuri belahan liang
senggamanya dan merasakan kalau labia mayora-nya sangat tebal dan
besar. Liang kewanitaan Sandra sudah sangat basah dan berbunyi waktu
kugosok dengan jariku. Tangan Sandra terasa turun dan melepaskan celana
serta CD-nya. Ini memudahkan tanganku untuk masuk lebih dalam ke liang
kenikmatannya.

“I am now pushing harder and deeper into you,” kataku dan Sandra hanya tersenyum sambil mengerang.

Cukup
ketat liang senggamanya dan pantatnya diangkat mengikuti irama
tanganku. Dari putingnya aku perlahan-lahan turun menciumi badannya,
pusarnya dan sampai pada liang kenikmatannya. Labia mayora-nya
berwarna merah muda dan dalamnya terlihat merah. Kujilat perlahan-lahan
sambil menikmati rasa dan bentuk dari kemaluannya. Aku tidak
tergesa-gesa, karena ingin benar-benar menikmati Liang senggamanya.
Bibir, mulut dan hidungku basah oleh cairan Sandra dan rasanya asin.
Sandra memegang rambut kepalaku sambil diremas-remas dan ditekan ke
liang kewanitaannya. Terlihat klitnya sebesar kacang kedele dan keras,
ditutupi oleh kulit, terlihat sangat seksi. Dengan ujung lidah,
kusentuh klitnya sambil menekan-nekan sedikit. Setiap lidahku menyentuh
klitnya, Sandra menggelinjang dan mengerang, rupanya dia sangat
sensitif kalau kena klitnya.

Kepalaku diangkat ke atas dan
Sandra minta agar aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang senggamanya.
Kunaik ke atas, dan dengan bantuan tangannya, batang kejantananku
diarahkan ke bibir kemaluannya. Oleh Sandra, kepala rudalku
digosok-gosok ke bibir kemaluannya dan sekali-kali ditekan ke dalam
lubang kemaluannya, terasa sangat geli dan enak. Rupanya Sandra juga
tidak tergesa-gesa. Bibir kami terpaut dan lidah saling berpindah
mulut. Tanganku sibuk meremas-remas payudaranya. Permainan kami sangat
santai dan tidak terburu-buru, sesuatu yang sangat kusukai, yaitu
mengikuti irama permainan kami.

Rudalku dan liang senggamanya
sudah sangat basah dan kejantananku rasanya sangat tegang dan keras
sekali karena digosok-gosok ke bibir kemaluannya. Kadang-kadang terasa
ngilu karena geli sekali. Sandra belum memperlihatkan ingin memasukkan
batang kejantananku ke dalam liang senggamanya. Dengan mata yang
terpejam masih menikmati gesekan kedua kulit kami, suara basah dari
kemaluan kami menjadi lebih seksi mengikuti irama nafsu kami berdua.

Akhirnya
Sandra menekan pantatku dengan tangan yang satu lagi sambil meletakkan
senjataku di lubang kenikmatannya. Dengan perlahan-lahan kejantananku
ditekan ke dalam lubangnya, dan terasa sangat licin tapi lumayan ketat
dan sempit, boleh juga nih Sandra. Kepala kejantananku terasa masuk ke
lubang yang sempit dan dengan pelan-pelan terasa seperti dijepit oleh
bibir kemaluannya. Begitu kepala keperkasaanku masuk ke dalam, sisanya
terasa mudah masuk lebih dalam lagi.

Bibirku digigit pelan-pelan sambil bilang, “I love this feeling, it is so good ooocchhh,” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Wajahku diciumi seluruhnya sambil terus bilang, “I like this, ooouchhh.”

Kedua tangannya sekarang dirangkulkan ke badanku dan terasa yang satu sangat basah dan lengket di punggungku, pasti karena love juice kami berdua.

Aku
menekan kemaluanku ke dalam sampai seluruhnya masuk sambil pantatku
kugoyangkan ke kiri ke kanan dan berputar-putar, seakan-akan lagi
menumbuk liang kewanitaannya. Denyut dinding rahimnya terasa sekali
memijat alat vitalku. Dengan kemaluanku di dalam, Sandra mendorongku ke
samping dan berusaha untuk berada di atasku. Dengan susah payah,
akhirnya dia sekarang di atasku dan batang kejantananku tidak lepas
dari liang senggamanya. Dengan posisi berjongkok, Sandra mulai memompa
burungku dan sekali-kali memutar pantatnya seakan-akan sedang menumbuk
rudal panjangku. Rupanya dia membalas apa yang kukerjakan tadi.

Terlihat
sangat cantik dan seksi Sandra ini, payudaranya sangat indah dan
menantang. Aku setengah duduk berusaha untuk menghisap duah dadanya.
Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku mencari lubang
pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang
berjongkok di atas rudal panjangku. Dengan mudah aku memasukkan jari
tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari kemaluannya dan
kemaluanku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan
lengket.

Aku memasukkan dan mengeluarkan jariku sambil mengikuti
irama turun naik badannya. Dia terlihat menikmati sambil melempar
kepalanya ke belakang sambil mengerang, “Oooccchhh, aaachh.”

Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali.

Dengan
dua jari di pantat dan batang kejantananku di liang kenikmatannya,
Sandra setengah teriak bilang, “I am coming now, jangan berhenti,
Darling..!”

Dia berhenti naik turun dan menekan kemaluannya
keras-keras ke senjataku dan tidak lama terasa lubang kemaluannya
berdenyut dengan keras, dan dia mengerang dengan keras sambil memelukku
dengan kuat-kuat. Dengan pijatan bibir kemaluannya, aku tidak dapat
menahan diri dan bilang ke dia kalau aku akan keluar juga, “Please give
it to me, saya ingin merasakannya di dalam.”

Semprotan sperma terasa sangat kuat dan banyak sekali, padahal tadi aku sudah keluar di mulut Sandra.

Bersamaan dengan semprotanku, Sandra bilang, “I am coming again, oooccchhh it so goodd..!”

Pantatnya
ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan rudal panjangku kurang dalam
saja. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil
digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kejantananku di dalam
dibatasi oleh dinding pantat dan rahaimnya. Dengan tetap memelukku, dia
merebahkan diri ke tempat tidur, kakinya melingkar di pinggangku dan
kejantananku tetap di dalam liang kewanitaannya.

Wajah, mata,
dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Sandra sambil
bilang, “Terima kasih atas percintaan yang indah.”

Aku juga bilang, “Terima kasih karena kamu bisa membuatku keluar dua kali.”

Kami
tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya
melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Nah itu adalah
ceritaku, memang benar-benar “Lucky Man”.

 

TAMAT

 

Lucky Man

No Comment yet. Be the first to comment on Lucky Man

Leave Your Comment Here!