Janda Kesepian

3rd August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1449 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Janda Kesepian

Aku melihat jam di tanganku. Masih lama
rupanya. Kira-kira setengah jam lagi waktu kuliah habis. Siang tadi
kakak iparku nelpon, memintaku datang ke rumahnya setelah kuliah. Aku
bertanya-tanya, karena biasanya hanya abangku saja yang menelponku,
menanyakan sesuatu atau memintaku untuk menjaga rumahnya jika dia ada
urusan keluar kota.

Rintik-rintik hujan mulai turun semakin
lebat. Mbak Limah yang bekerja di rumah abangku ini bergegas ke halaman
belakang untuk mengambil jemuran. Kemudian, “Mad!”, teriaknya keras
dari belakang rumah. Aku berlari menuju arah suaranya dan melihat Mbak
Limah terduduk di tepi jemuran. Kain jemuran berhamburan di sekitarnya.

“Mad, tolong Mbak Limah bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil menyeringai mungkin menahan sakit.

“Mbak tadi tergelincir”, sambungnya.

Aku hanya mengangguk sambil mengambil kain yang berserakan lalu sebelah tanganku coba membantu Mbak Limah berdiri.

“Sebentar
Mbak. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya
memegang kain yang berada di tangan Mbak Limah. Aku bergegas masuk ke
dalam rumah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak
Limah. Ketika aku menghampiri Mbak Limah lagi, dia sudah separuh
berdiri dan mencoba berjalan terhuyung-huyung. Hujan semakin lebat
seakan dicurahkan semuanya dari langit.

Aku menuntun Mbak Limah
masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi. Dadaku berdetak kencang
ketika tanganku tersentuh buah dada Mbak Limah. Terasa kenyal sehingga
membuat darah mudaku terasa tersirap naik. Kuakui walau dalam umur awal
30-an ini Mbak Limah tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan
kakak iparku yang berusia 25 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan
potongan badannya yang masih menarik perhatian lelaki. Tidak heran,
pernah Mbak Limah kepergok oleh abangku bermesraan dengan laki-laki
lain.

“Ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Limah ketika aku masih termangu-mangu.

Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan kuberikan kepadanya.

“Terima kasih Mad”, katanya dan aku cuma mengangguk-angguk saja.

Kasihan
Mbak Limah, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Suaranya halus
dan lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak
tersenyum. Rajin dan tidak pernah sombong atau membantah. Dianggapnya
rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Tak pernah ada yang
menyuruhnya karena dia tahu tanggungjawabnya.

Kadang-kadang saya
memberinya sedikit uang, bila saya datang ke sana. Bukan karena apa,
sebab dia mempunyai sifat yang bisa membuat orang sayang kepadanya.
Abangku tidak pernah memarahinya. Gajinya setiap bulan disimpan di
bank. Pakaiannya dibelikan oleh kakak iparku hampir setiap bulan.
Memang dia cantik, dan tak tahu apa sebabnya hingga suaminya
menceraikannya. Kabarnya dia benci karena suaminya main serong. Hampir
6 tahun lebih dia menjanda setelah menikah hanya 3 bulan. Sekarang dia
baru berusia 33 tahun, masih muda.

Kalau masalah kecantikan,
memang kulitnya putih. Dia keturunan Cina. Rambutnya mengurai lurus
hingga ke pinggang. Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada
kelebihannya. Kelebihan Mbak Limah ialah sikapnya kepada semua orang.
Budi bahasanya halus dan sopan.

Oh.. ya!, Mbak Limah berdiri
lalu mencoba berjalan menuju ke kamar mandi. Melihat keadaannya masih
terhuyung-huyung, dengan cepat kupegang tangannya untuk membantu.
Sebelah tanganku memegang pinggang Mbak Limah. Kutuntun menuju ke pintu
kamar mandi. Terasa sayang untuk kulepaskan peganganku, sebelah lagi
tanganku melekat di pinggangnya.

Mbak Limah menghadap ke diriku
saat kutatap wajahnya. Mata kami saling bertatapan. Kulihat Mbak Limah
sepertinya senang dan menyukai apa yang kulakukan. Tanganku jadi lebih
berani mengusap-usap lengannya lalu ke dadanya. Kuusap dadanya yang
kenyal menegang dengan puting yang mulai mengeras. Kudekatkan mulutku
untuk mencium pipinya. Dia berpaling menyamping, lalu kutolak pipinya.
Mulut kamipun bertemu. Aku mencium bibirnya. Inilah pertama kalinya aku
melakukannya kepada seorang wanita.

Erangan halus keluar dari
mulut Mbak Limah. Ketika kedua tanganku meremas punggungnya dan lidahku
mulai menjalari leher Mbak Limah. Ini semua akibat film BF dari CD-Rom
yang sering kutonton dari rumah teman.

Mbak Limah bersandar ke
dinding, tetapi tidak meronta. Sementara tanganku menyusup masuk ke
dalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup. Kuhisap dan kugelitik
langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan. Tanganku bergerak
bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami
sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri
bersandar di dinding.

Kami terangsang tak karuan. Nafas kami
semakin memburu. Aku merasa tubuh Mbak Limah menyandar ke dadaku. Dia
sepertinya pasrah. Baju daster Mbak Limah kubuka. Di dalam cahaya
remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam. Daging
kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas
perlahan-lahan.

Bibirku mengecup puting buah dadanya secara
perlahan. Kuhisap puting yang mengeras itu hingga memerah. Mbak Limah
semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar
menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya
yang membusung. Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”.

Puting
payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit
perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya. Lidahku kini
bermain di pusar Mbak Limah, sambil tanganku mulai mengusap-usap
pahanya. Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak Limah semakin
kuat menarik rambutku.

“Maddd…, Mad”, suara Mbak Limah
memanggilku perlahan dari mulutnya. Aku terus melakukan usapanku.
Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah.
Tanganku mulai menyentuh daerah kemaluannya. Rambut halus di sekitar
kemaluannya kuusap-usap perlahan.

Ketika lidahku baru menyentuh
kemaluannya, Mbak Limah menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat
sayu bagai menyatakan sesuatu. Pandangannya ditujukan ke tempat
tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Limah seraya menuntun Mbak
Limah menuju tempat tidur. Bau kemaluannya merangsang sekali. Dengan
satu bau khas yang sukar diceritakan.

“Maddd…”, bisiknya
perlahan di telingaku. Aku terdiam sambil mengikuti apa yang
kuinginkan. Mbak Limah sepertinya membiarkan saja. Kami benar-benar
tenggelam. Mbak Limah kini kutelanjangkan. Tubuhnya berbaring telentang
sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya cukup menggiurkan.
Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap
kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh.

Puting
susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan
pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut
wanita yang telah melahirkan. Memang Mbak Limah tidak memiliki anak
karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan. Kakinya merapat. Karena
itu aku tidak dapat melihat seluruh kemaluannya. Cuma sekumpulan rambut
yang lebat halus menghiasi bagian bawah.

Kemudian, tanganku
terus membuka kancing bajuku satu-persatu. ritsluiting jeans-ku
kuturunkan. Aku telanjang bulat di hadapan Mbak Limah. Penisku berdiri
tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Limah. Buah dada yang
membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya
kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya. Mbak Limah
telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik.

Lalu
akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Limah. Sungguh
lembut tubuh mungil Mbak Limah. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat
mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang
puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap
dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku menyentuh
pinggang Mbak Limah. Kudekatkan penisku ke tangan Mbak Limah.
Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya.

Memang Mbak
Limah tahu apa yang harus dilakukan. Maklumlah dia pernah menikah.
Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film BF, itu
saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya.
Terasa berlendir basah di kemaluannya.

Aku beralih dengan posisi
69. Rupanya Mbak Limah mengerti keinginanku. Lalu dipegangnya penisku
yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku
terpejam-pejam ketika lidah Mbak Limah melumat kepala penisku dengan
lembut. Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan
betapa nikmatnya diriku. Bibir Mbak Limah terasa menarik-narik batang
penisku. Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan
nikmat.

Kubuka lebar-lebar paha Mbak Limah sambil mencari liang
vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan
lidahku sambil memegang clitorisnya. Mbak Limah mendesah. Kujilat-jilat
dengan lidahku. Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Mbak Limah
semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin
terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang
vaginanya. Tentu Mbak Limah sudah cukup terangsang, pikirku.

Aku
kembali pada posisi semula. Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik
tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Mbak
Limah memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap
pangkal pahanya. Kedua Kaki Mbak Limah mulai membuka sedikit ketika
jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya
kuhisap sedikit kasar. Punggung Mbak Limah terangkat-angkat ketika
lidahku mengitari perutnya.

Akhirnya jilatanku sampai ke celah
pahanya. Mbak Limah semakin membuka pahanya ketika aku menjilat
clitorisnya, kulihat Mbak Limah sudah tidak bergerak lagi. Kakinya
kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk merasakan
kenikmatan yang telah dirasakan.

Erangan Mbak Limah semakin kuat
dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan
mata terpejam menahan kenikmatan. Aku bertanya, “Gimana Mbak rasanya?”,
suaraku lembut dan sedikit manja. Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka
matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Aku mengerti. Itu
bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan penisku ke arah
lubang vaginanya yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah
banjir di gerbang vaginanya.

Kugesek-gesekan kepala penisku di
cairan yang membanjir itu. Perlahan-lahan kutekan ke dalam. Tekanan
penisku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Limah
menggelinjang seperti kesakitan.

“Pelan-pelan Madd!”, Mbak Limah
berbicara dengan nafas sesak. Aku sekarang mengerti. Kemaluan Mbak
Limah sudah sempit lagi setelah 6 tahun tidak disetubuhi, walaupun dia
sudah tidak perawan lagi. Memang aku belum berpengalaman kerena ini
merupakan pertama kalinya aku menyetubuhi seorang wanita walau umurku
sudah matang.

Kutekan lagi. Kumasukkan penisku perlahan-lahan.
Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit.
Lalu Mbak Limah memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti
orang sedang menggigit tulang. Hanya sebagian penisku yang masuk.
Kubiarkan sebentar penisku berhenti, terdiam. Mbak Limah juga terdiam.
Tenang.

Sementara itu, kupeluk tubuh Mbak Limah
dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan
menggigit-gigit lembut. Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan.
Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang.

Lalu kemudian
aku bertanya dengan suara lembut, “Mau diteruskan…?”. Mbak Limah
membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan.

Kutekan
penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan.
Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Mbak Limah,
mencengkram seluruh batang penisku. Penisku terasa seperti tersedot di
dalam vagina Mbak Limah. Kami mulai terangsang!

Penisku mulai
memasuki kemaluan Mbak Limah lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh
menggairahkan. Mata Mbak Limah terbuka menatapku dengan pandangan yang
sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan
rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya.

Sedikit
demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya. Mbak Limah mendesah
dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di kemaluannya.
Kadang-kadang punggung Mbak Limah terangkat-angkat menyambut penisku
yang sudah melekat di kemaluannya.

Berpuluh-puluh kali
kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas kami yang tidak teratur
lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak Limah mengejang dengan mata
yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku.
Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari
mulutnya secara pelan. Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan
melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya.

Goyanganku semakin
kuat. Kasur Mbak Limah bergoyang mengeluarkan bunyi berdecit-decit.
Leher Mbak Limah kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya.
Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yang menandakan air
maniku akan keluar. Denyutan yang semakin keras membuat penisku semakin
menegang keras. Mbak Limah mengimbanginya dengan menggoyangkan
pinggulnya.

Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Mbak Limah
semakin keras menjepit penisku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam
saja. Bersandar pada tubuhku, Mbak Limah lunglai seperti tidak
bertenaga. Kugoyang terus hingga tubuh Mbak Limah seperti
terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku itu. Nafasnya
semakin kencang.

Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya
aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat ke dalam kemaluan Mbak Limah.
Bergetar badanku saat maniku muncrat. Mbak Limah mengait pahaku dengan
kakinya. Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan
giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat.

Waktu
aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke
dalam. Kulihat Mbak Limah menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan
kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa segala-galanya. Untuk
beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa tusukan tadi
memang membuat kami sampai ke puncak bersama-sama. Memang hebat.
Sungguh puas.

Memang inilah pertama kalinya aku melakukan
senggama. Mbak Limah lah wanita pertama yang mendapatkan air perjakaku.
Walaupun dia seorang janda, bagiku dia adalah wanita yang sangat
cantik. Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah
kemana. Mbak Limah memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang
yang tidak pernah merasakan kenikmatan persetubuhan, bagiku Mbak Limah
betul-betul memberiku surga dunia.

Aku terbaring lemas di sisi
Mbak Limah. Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk
membukanya. Dalam hati aku puas karena dapat mengimbangi permainan
ranjang Mbak Limah. Kulihat Mbak Limah tertidur di sebelahku. Kejadian
yang tidak pernah kuimpikan, terjadi tanpa dapat dielakkan. Mbak Limah
juga telentang dengan mata tertutup seperti kelelahan, mungkin lelah
setelah dapat menghilangkan keinginan batinnya sejak menjanda 6 tahun
yang lalu.

Kami masih berpelukan. Kemudian Mbak Limah terasa
seperti mengusap mukaku. Kubuka mataku. Dia tersenyum. Aku tersenyum.
Seolah-olah kami tidak merasa aneh berpelukan tanpa sehelai benang pun
di tubuh kami. Dia mencium bibirku.

Dia berbisik ketelingaku,
“Terima kasih ya Mad. Mbak…” Belum sempat dia menghabiskan
kata-katanya, aku bertanya, “Mbak puas…?”. Dia tersenyum dan
mengangguk. “Dua kali!”, jawabnya ringkas.

“Mad kamu memang hebat, penismu juga besar! Panjang!”, katanya.

Sementara itu ia mengocokkan batang penisku. Suaranya membangkitkan gairahku.

“Mbak
suka?”, tanyaku. Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka. Saat itu
juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus penisku.
Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi.

“Mbak mau
lagi?”, tanyaku dengan suara manja. Dia tersenyum manis. Apa yang
kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka
selimutnya. Kulihat kaki Mbak Limah sudah mengejang. Sedikit demi
sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah. Segunduk daging mulai
terlihat. Ufff…, detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati
kembali tubuh Mbak Limah tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yang
bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya,
tampak berkilat di depanku.

Kurentangkan kedua kakinya hingga
terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Mbak Limah. Kedua
belahan bibir mungil kemaluannya kubuka. Melalui celah itu kulihat
semua rahasia di dalamnya. Aku menelan air liurku sendiri sambil
melihat kenikmatan yang telah menanti. Kudekatkan kepalaku untuk
meneliti pemandangan yang lebih jelas. Memang indah membangkitkan
birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yang menghambat nafasku.
Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir kemaluan Mbak Limah
dengan bibir dan lidahku.

Rakus sekali lidahku menjilati setiap
bagian kemaluan Mbak Limah. Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan
kesempatan yang dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke
bagian daging kecil yang menonjol di mulut vaginanya, Mbak Limah
mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup
perlahan. Beberapa kali kulihat Mbak Limah mengejangkan kakinya.

Aku
tak peduli bau khas dari liang kemaluan Mbak Limah memenuhi relung
hidungku. Malah membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan
lidahku ke lubang kemaluan Mbak Limah yang kini sedikit terbuka.
Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi, tapi tidak bisa. Mungkin
karena lidahku kurang keras. Tetapi, kelunakan lidahku itu membuat Mbak
Limah beberapa kali mengerang karena nikmat.

Dalam keadaan sudah
terangsang, kutarik tubuh Mbak Limah ke posisi menungging. Ia menuruti
permintaanku dan bertanya dengan nada manja.

“Mad mau diapakan badan Mbak?”, bisiknya.

Aku
rasa dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya dulu. Aku
diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga kusut. Air
mani Mbak Limah sudah membasahi kemaluannya. Kubuka pintu kemaluannya.
Kulihat dan perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak pernah melihat
kemaluan wanita serapat itu. Kucium kemaluan Mbak Limah. Bau anyir dan
bau air maniku bercampur dengan bau asli vagina Mbak Limah yang
merangsang. Bau vagina seorang wanita!

Jelas semua! Bulu
kemaluan Mbak Limah yang lembab dan melekat berserakan di sekitar
vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi ruang. Kumasukkan jari
telunjukku ke dalam lubang vaginanya. Kumain-mainkan di dalamnya.
Kulihat Mbak Limah menggoyang punggungnya. Kucium dan kugigit daging
kenyal punggungnya yang putih bersih itu. Kemudan kurangkul
pinggangnya. Kumasukkan penisku ke liang vaginanya. Pinggang Mbak Limah
seperti terhentak.

Perlahan-lahan kutusukkan penisku yang besar
panjang ke lubang vaginanya dengan posisi “doggy-style”. Tusukanku
semakin kencang. Nafsu syahwatku kembali sangat terangsang. Kali ini
berkali-kali aku mendorong dan menarik penisku. Hentakanku memang kasar
dan ganas. Kuraih pinggang Mbak Limah. Kemudian beralih ke buah
dadanya. Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan.

Lama
juga Mbak Limah menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir setengah
jam. Maklumlah ini adalah kedua kalinya dalam waktu singkat. Tusukanku
memang hebat. Kadang cepat, kadang pelan. Kudorong-dorong tubuh Mbak
Limah. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya memanjang. Berkali-kali.
Seperti orang terengah-engah kecapaian. “Ehh.. ek, Ekh, Ekh.”

Akirnya
aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu kurangkul kedua
bahu Mbak Limah sambil menusukkan penisku ke dalam. Tenggelam semuanya
hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan spermaku. Kutarik lagi,
dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali kugoyang seperti itu.
Mbak Limah terlihat pasrah mengikuti hentakanku.

Kemudian
kupeluk tubuhnya walaupun penisku masih tertancap di dalam kemaluannya.
Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami berciuman. Begitu lama
hingga terasa penisku kembali normal. Mbak Limah sepertinya kelelahan.
Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang miring sambil
berpelukan. Mbak Limah terlihat lemas lalu tertidur.

Melihat
Mbak Limah begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku bangkit
kembali. Kurangkul tubuh Mbak Limah dan aku bermain sekali lagi. Kali
ini Mbak Limah menyerah. Dia tampak menyerah dan tidak menolak.
Kumainkan kemaluannya sampai puas. Bau di kamar ini adalah bau air mani
kami. Bunyi tempat tidur pun berdecit-cit. “Ahh… argharaah.”

Sesudah
itu perlahan-lahan aku berdiri dan memakai kembali pakaianku. Aku
keluar dari kamar Mbak Limah menuju ke ruang depan. Sewaktu aku keluar,
barulah aku sadar pintu kamar Mbak Limah tidak tertutup rapat.

Rupa-rupanya
kakak iparku sudah pulang. Mendadak aku pucat kalau-kalau kejadian tadi
disaksikan oleh kakak iparku. Aku keluar sambil mencoba berlagak
seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku duduk di sofa. Sebentar
kemudian kakak iparku datang membawa minuman. Kulihat mukanya. Mukanya
terlihat biasa saja. Kuyakinkan diriku bahwa kakak iparku tidak tahu
apa yang telah terjadi tadi antara aku dengan Mbak Limah.

Aku bertanya, “Abang tidak pulang sama Mbak?”

“Tidak. Dia ke Singapore 4 hari!”, jawabnya. Dia tersenyum.

“Minumlah!”, dia mempersilakanku.

Kemudian
dia berjalan menuju ke kamarnya. Aku duduk dan menonton film “Airforce
One”. “Mbak sebentar lagi mau pergi, ambil mobil di sana. Nanti malam
kamu tidur di sini, sekilan jaga rumah!”, katanya pendek.

Memang
bagitulah biasanya. Kalau abangku tidak ada, aku yang jadi sopir kakak
iparku untuk membawa Mercedez-nya ke mana-mana. Malam itu aku tidak
pulang ke flatku. Tidur di rumah abangku! Memang ada kamar khusus
untukku di rumahnya yang cukup besar itu. Tapi yang lebih special lagi
bagiku adalah tidur dalam pelukan Mbak Limah.

TAMAT

Janda Kesepian

  • Bu majikan sombong kesepian
No Comment yet. Be the first to comment on Janda Kesepian

Leave Your Comment Here!