Ibu Mertuaku Yg Pemarah

21st July 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 3470 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Ibu Mertuaku Yg Pemarah

Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang
berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah
satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari
anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih
mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus
berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah
Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau
ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu
Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi
penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk
gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik
tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu
mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya
selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan
kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti
panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan
anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan
gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak
bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di
peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh
ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta
memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa
payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi
tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan
Sur…(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu”, sambil
menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak
mengecewakannya kubisiki juga, “Buuu…, Saya juga kangen sekali dengan
Ibu”, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap
masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, “Suuur…, Ibu merasakan
ada yang mengganjal di perut Ibu”, dan karena kaget dengan kata-kata
itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan
kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari
berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam
rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku
selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang
berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak
meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah
mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun
Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung
atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan
tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat
jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami
berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu
terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk
menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk
mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang
masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk
menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya
sedang ke kebun Apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai
sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang
tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak
terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.

“Lho…, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?”, tanya ibunya.

“Laah..,
nggak usahlah Buuu…, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak
lama saja kok”, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan
aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya
berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan
cucunya saja.

Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun
pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang
tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, “Nak
Suuur…, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana”.
Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang
sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu
waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku,
kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah
berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca
semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan
diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku
segera berlari menuju belakang sambil berteriak, “Buuu…, ada apa
buuu?”. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku
seperti merintih, “Nak Suuur…, tolooong Ibuuu”, dan ketika kujenguk
ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh
dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh
serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke
atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya,
“Bagian mana yang sakit Buuu”, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah
meringis seperti menahan rasa sakit, “Di sini.., sambil mengurut
pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, “Buuu…, apa ada bagian lain yang sakit..?

“Nggak ada kok Suuur…, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..”, jawabnya.

“Ooh…, iya nak Suuur…, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya”.

Aku
segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku
ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu
mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya
terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat
tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat
keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha
beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, “Ayooo..lah nak Suuur…,
nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula
dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan…, tolong di
urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu…, ibu
takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

Dengan perasaan penuh
keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak
merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang
dinaikinya seraya kutanya, “Bagaimana Buuu…, apa bagian ini yang
sakit..?

“Betul Nak Suuur…, yaa yang ituuu…, tolong urutkan yang
agak keras sedikit dari atas ke bawah”, dan dengan patuh segera saja
kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya
yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya,
ibu mertuaku berkata kembali, “Nak Suuur…, tolong agak ke atas
sedikit ngurutnya”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga
sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu
terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa,
apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya
dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

“Ayoo…,doong…, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti”, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.

“Iii…, yaa…, Buuu maaf, tapi…, Buuu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.

“aah…
kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan
kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.

“Buuu…,
Saa…, yaa…, saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang
harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang
karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian
tengahnya.

“Nak Suuur..”, katanya lirih sambil menarik tangan
kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang
bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di
bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas
vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil
dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis
suara ibu mertuaku, “ssshh…, ssshh”. Kejadian yang tidak kuduga sama
sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman
agak keras.

“Buuu…, Saa…yaa”, dan belum sempat aku menyelesaikan
kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, “Nak Suuur…, koook
seperti anak kecil saja.., siiih?”.

“Buu…, Saa…, yaa…, takuuut
kalau nanti bapak datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku
takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku
yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin
menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, “Nak Suuur…, Bapak
pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti…, tolong Ibuuu…,
naak”,terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak
mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para
pembaca Situs “17 Tahun.Com” pun juga tidak bisa menahan diri kalau
dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan
apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti
akan ada.

“Ayooo…lah Nak Suuur…, tolongin Ibuuu…, Naak”,
kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan
tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.

“Buuu…, biar saya kunci
pintunya dulu, yaa..?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada
orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, “Nggak usah naak…,
selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus
mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk
bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil
tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang
kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai
dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku
terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak
ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman
ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan
ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.

“Buuu…, boleh saya bukaa…, rok Ibu..? tanyaku minta izin.

“Suuur…,
bol…, eh…, boleh…, Nak, Nak Suur…, boleh lakukan apa saja..”,
katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku
dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing
celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas,
lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang
tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting
susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke
bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, “Buuu…, boleh saya pegang
dan ciumi tetek…, Ibuu..?

“Bool…, eh…, boleh…, sayang..,
lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak
mendapatkan ini lagi dari bapakmu…, ayoo.., sayaang”, sahut ibu
mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan
perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu
puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan
kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari
mulut ibu mertuaku terdengar, “ssshh…, aahh.., sayaang…, ooohh…,
teruuus…, yaang…, tolong puasiiin Ibuu…, Naak”, dan suara ibu
mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang
dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri
dan ibu dari istriku.

“Naak Suuur”, kudengar suara ibu mertuaku
yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya,
“Ibuu…, ingin melihat punyamu…, Naak”, seraya tangannya berusaha
memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.

“Iyaa…,
Buu…, saya buka celana dulu Buuu”, sahutku setelah kuhentikan
hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di
dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang
sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, “Nak Suur…,
besar betuuul…, dan keras lagi, ayooo…, dong cepaat.., dibuka
celananya…, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti
sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya,
langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Ketika aku
membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung
saja ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, besaar
sekali”, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar
saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari
punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta
mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan
desahan kecil, “ssshh…, aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan
di wajah dan rambutnya.

“Aduuuh…, Buuu…, sakiiit”, teriakku
pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya,
dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya
dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan
oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya
dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya
serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas
pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk
meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu
mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang
tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku
dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih
dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa
yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya
didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang
penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku
secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya
sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah
ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala
penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan
kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak
tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi
mendesis, “ssshh…, aacccrrr…, ooohh”, mengikuti irama maju
mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju
mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

Beberapa
menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari
mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil
kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk
mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya
mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, “Naak
Suuur…, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”, dan sambil kunaiki
tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, “Buuu…, apa boleh…, saya
lakukan?”, dan segera saja ibu menjawabnya, “Nak Suuur…, tolong
pegang dan jilati kepunyaan ibu…, naak…, ibu sudah lama kepingin di
gituin”.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku
menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya
kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak
terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku
segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku
meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku
agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar
ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya.
Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai.
Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam
mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati
perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku
menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku
pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah
di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak
sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, “Nak Suuur…,
tolooong…, cepaat…, saa.., yaang…, ayooo…, Suuur”.

Tanpa
kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan
badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat
itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu
terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari
tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung
lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu
menggelinjang agak keras sambil berkata, “Cepaat…, Suuur…, ibu
sudah nggak tahaan”.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku
ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini
menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara,
“ssshh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, adduuuhh…, enaak…,
Suuur”, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini
membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh…, ooohh…, Suuur…,
betuuul…, yang itu…, Suuur…, enaak…, aduuuh…, Suuur…,
teruskaan…, aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta
menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan
di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku
semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang,
“aahh…, oooh…, duuuh…, Suuur…, ibuu…, mau.., mauuu…,
sampaiii…, Naak…, oooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik
turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar
adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan
tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu
jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian
bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu
mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya
berkata, “Naak Suuur…, ke siniii…, saayaang”, dan tanpa menolak
kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat
kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan
suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, “Suuur…, Ibu
puas dengan apa yang Nak Suuur…, lakukan tadi, terima kasiih…,
Naak”. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga
ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan
hatinya, “Buuu…, saya sayang Ibuuu…, saya ingin ibu menjadi…,
puu..aas”.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja
masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, “Naak
Suuur…, Ibu masih belum puas sekali…, Suuur…, tolooong puasin ibu
sampai benar-benar puaas…, Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan
kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya
itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini
adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara
kembali, “Sayaang…, ayooo…, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur,
tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu”.

“Buuu…, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini…, apalagi kepada Ibuu”,sahutku di dekat telinganya.

“Suuur…,
nggak apa-apa…, Naak…, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak…,
lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur”, katanya dengan suara
setengah mengiba.

“aahh…, biarlah, kenapa kutolak”, pikirku
dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan
kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu
mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu
kubisikkan, “Buuu…, maaf yaa…., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.

“Suur…,
cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak
sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan
penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat
atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya
langsung saja beliau berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, pelan-pelan
saayaang…, ibu agak sakit niiih”, katanya dengan wajah yang agak
meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di
vaginanya, “Maaf Buu…, saya sudah menyakiti Ibu…, maaf ya Bu”. Ibu
mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa Suuur…, Ibu cuma sakit
sedikit saja kok, coba lagi Suur..”, sambil merangkulkan kedua
tangannya di pungungku.

“Buuu…, saya mau masukkan lagi yaa dan
tolong Ibu bilang yaa…, kalau ibu merasa sakit”, sahutku. Tanpa
menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi
sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah
menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak
mengeluarkan keluhan, “Buuu…, sakit.., yaa?”. Ibu hanya menggelengkan
kepalanya serta menjawab, “Suuur…, masukkan saja sayaang”, sambil
kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali
menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku
sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu
meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan
saja tusukan penisku dan, “Bleess”, penisku mulai membongkar masuk ke
liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuuh…, Suuur”,
sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja
gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak
menambah sakit bagi ibu.

“Buuu…, sakit yaa..? maaf ya Buuu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.

“Enggak
kok sayaang…, ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku
sambil berucap kembali, “Suuur…, besar betul punyamu itu”.

Pelan-pelan
kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam
vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya
pelan-pelan sambil berdesah, “ssshh…, oooh…, aahh…, sayaang…,
nikmat…, teruuuskan…, Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan
pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut
desahannya, “Buuu…, aahh…, punyaa Ibu juga nikmat, buuu”, sambil
kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan
ibupun semakin sering mendesah, “Aah…, Suuurr…, ooh…, teruus…,
Suur”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk
vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget,
“Buuu…, kenapa? apa ibu capeeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya
saja, sambil mencium leherku ibu berucap, “Suuur…, coba hentikan
gerakanmu itu sebentar”.

“Ada apa Buuu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.

“Suuur…,
kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa
maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot
dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku
mengatakan, “Buuu…, aduuuh…, enaak…, Buu…, teruus Bu, oooh…,
nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar
masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.

“oooh…, aah…, Suuur…, enaak Suuur”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui
nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku
tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja
kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya
yang menyebabkan ibu mertuaku protes, “Kenapa…, Suuur…, kok
berhenti?”, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan
diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu
mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta
kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa
yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan
kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat
basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk
semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke
badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, “Suuur…, aduuuh…,
punyamu masuk dalam sekali…, naak…, aduuuh…, teruuus sayaang…,
aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat.
Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku,
ibu terus saja berdesah, “Ooohh…, aahh…, Suuur…, enaak…, terus,
tekan yang kuaat sayaang”.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi
seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari
dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu
kukatakan pada ibu, “Buuu…, coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku
sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu
nungging, “Aduuh…, Suuur…, kamu kok macem-macem sih”, komentar Ibu
mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba
penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan
kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, “Aduuuh
Suuur, oooh”, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok
penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat
badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali
kudengar ibu berteriak, “oooh…, oooh…, Suuur”, dan tidak lama
kemudian ibu mengeluh lagi, “Suuur…, Ibu capek Naak…, sudaah
Suuur…, Ibuu capeeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya
tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau
tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan
kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap.
Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu
kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga
itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan
penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah
semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang
memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya
terdengar sangat cepat, “Suuur…, jangaan…, kuat-kuat Naak…, badan
ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di
samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu
mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku
ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan
penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari
bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, “Maaf…,
Buu…, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”,
segera saja ibu berucap, “Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka
dengan posisi seperti ini saja, ayoo…, Suuur mainkan lagi punyamu
agar ibu cepat puaas”.

“Iyaa…, Buuu…, saya akan coba lagi”,
sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar
masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak
menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai
menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di
vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan
sewaktu memasuki liang vaginanya.

Ketika salah satu payudara ibu
kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku
semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang
agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, “ooohh…,
aahh…, Suuur…, teruuus…, oooh”, seraya meremas-remas rambutku
lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam
vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan
sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya
yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke
punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, “Nak
Suuur…, aduuuh…, Ibuuu…, sudaah…, oooh…, mauuu kelluaar”. Aku
sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat
dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang
kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk
vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan
pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, “Bagaimana…,
Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih
menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti
nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding
sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan
kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu…, saya tahu ibu
pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya
aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu
yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat,
ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua
tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku,
“Jangaan…, Suuur…, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena
ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu
mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu…, yaa…, sayaang”,
terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku
tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali
kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang
sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, “Tidaak…,
Buuu…, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus
seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu
hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang
sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan
tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, “Aduuuh…,
oooh…, Buuu”.

“Kenapa…, sayaang…, enaak yaa?”, sahut ibu
sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya
kukatakan, “Buuu…, enaak sekaliii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu
mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya,
secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk
vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “oooh…, aah…,
Suuur…, teruuus…, naak…, aduuuh…, enaak sekali”.

Semakin
lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya
semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan
mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku
sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak
keluar, “Buuu…, sebentar lagi…, sayaa…, sudaah…, mau keluaar”,
sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena
mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin
mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya
di punggungku seraya berkata, “Suuur…, teruuuss…, Naak…,
Ibuuu…, jugaa…, sudah dekat, ooohh…, ayooo Suuur…, semprooot
Ibuu dengan airmuu…, sekaraang”.

“Iyaa…, Buuu…, tahaan”,
sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan
berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke
vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku
dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah
nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina
ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan
kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan
kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang
diberikan oleh istriku.

“Buuu…, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?”, tanyaku.

“Mungkin saja Suuur…, kenapa Suuur?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.

“Buuu…, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia”, ibu hanya diam dan seperti berfikir.

Setelah diam sebentar lalu kukatakan, “Buuu…, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah
peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan
alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku
selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di
suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang
Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap
bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.

Bagi pembaca yang ingin memberi komentar, silakan kirim email pada saya.

TAMAT                   

Ibu Mertuaku Yg Pemarah

No Comment yet. Be the first to comment on Ibu Mertuaku Yg Pemarah

Leave Your Comment Here!