Dosen Favorit

12th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1193 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Dosen Favorit

Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah
di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini
semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup manis untuk
dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat
menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih
mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya
aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok
miniku berjalan melenggang. Semua mata tertuju kepadaku ada juga
beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga
menyaksikan semua itu.

Terus terang aku sudah tidak perawan
sejak usia 18 tahun pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan
dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja yang
kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan “camping”
bersama teman-teman saat perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata.
Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.

Kuliah
sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya, wajahnya ganteng
atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya
pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau
dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita
yang diincarnya. Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga
mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri.
Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar
aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak
Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi
pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang
diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat
berdiri di depanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk menarik
perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit
itu, sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena,
pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah
dadaku Pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah
mau melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.

Merah
wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis di
papan. Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan
kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang
menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu
memandangnya bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya.
Kubayangkan betapa besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang
sembunyi di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding
membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat disinggahi oleh
batang kemaluannya. Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan
kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal.

“Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang”, tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya.

“Iya
Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalau kamu
bagaimana Anita”, Tanyanya kepadaku, mereka berdua denganku (jadi
bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang
jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia
mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan seks
dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang
berburu Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga
terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan
santai-santai saja.

“Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi
aku paling jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak
tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan dibuatnya,..”
cerita Anita berapi-api, ” Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya”,
lanjutnya.

Setelah puas ngerumpi kiri, kanan, depan dan belakang
mengupas habis masalah dosen favorit, aku berpisah dengan sahabatku
untuk janji bertemu besok dan akan berusaha bertemu dengan Pak Faisal
pada minggu depan, aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa
kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel. Tak kurasakan ada
mobil berjalan pelan mengikutiku sampai akhirnya kira-kira berjarak 300
meter di luar halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan
kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk mengantarku. Aku
menoleh dan, deg, deg, deg, jantungku seakan berhenti. Pak Faisal yang
baru saja kubicarakan tersenyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi
aku langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada tempat
duduk kiri. Mata Pak Faisal tak luput melihat pahaku yang tersingkap
dan dengan cepat kututup pintu serta membenahi letak dudukku yang
terlalu sembrono itu.

Mobil berjalan lambat kuperhatikan
interior di dalamnya cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih
serta wangi, aku kerasan di dalam mobilnya. Sesekali mata Pak Faisal
mengarah pada belahan dada yang padat berisi, apabila jalan
bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut turun naik sesuai irama jalan.
Tak terasa perjalanan sudah jauh melampaui arah kos-kosanku. Sambil
bercerita ringan Pak Faisal memindahkan persnelling tanpa melihatnya
dan… secara tidak sengaja dia menyenggol pahaku, cepat-cepat ditarik
tangannya sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja
padahal aku juga kepingin tangannya berlama-lama di pahaku bahkan tidak
hanya di paha saja.

Tak terasa mobil dibelokkan pada restoran
yang mewah dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang
asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang. Setelah makanan
tersedia Pak Faisal menikmati sambil bernyanyi. Merdu juga suaranya,
mesra di telinga. Ruangan ber-AC tinggi membuat aku agak dingin,
sengaja kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak Faisal masih
terus bernyanyi. Dua lagu telah selesai dinyanyikan dan dengan lembut
tangannya mulai memeluk bahuku dan… gila, aku menikmati sekali. Tak
lama kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku tetap
terpejam dan disentuh bibirku dengan tangannya akhirnya perlahan dan
lembut bibirnya merapat di bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan
ini dengan cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati dan
kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia juga membalas
tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas, dia tidak diam dengan
perlahan diraihnya payudaraku dari luar kaos dan tangannya mulai
menyibak kaosku. Dingin terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh.
Putingku tak luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai mengeras.
Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya. Perlahan ditarikknya
kaosku keatas hingga tinggal BH dan rok miniku saja, dia semakin
agresif saja kelihatannya, Pak Faisal berdecak kagum melihat buah
dadaku meyembul besar seakan BH-ku tak sanggup menampung semua
payudaraku ini. Didekatkan kumisnya pada susuku aku kegelian dan
kurasakan hangat lidahnya mengulum pentilku, aku kegelian hebat. Rambut
Pak Faisal jadi sasaran untuk menahan geli, aku mengucek dan menjambak
rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi cupang hingga
nampak merah pekat ganas sekali dia, pikirku.

Perlahan diraihnya
leher dan aku ditidurkan di atas sofa, lagu karaoke sendu menambah
gairahku semakin tinggi. Pak Faisal tak bosan-bosan menciumi bagian
tubuhku dan kurasakan pahaku bersentuhan dengan tangan berbulu milik
Pak Faisal. Rokku disibak dan ditariknya keras sehingga pengaitku
lepas, gila cing… kini tinggal celana dalamku yang berwarna ungu
serta BH dengan warna yang sama. Pak Faisal semakin bernafsu, mulutnya
menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan mengerang, semakin aku
mengerang semakin ganas dia melakukan aksinya.

“eeh, Pak, Pak,
Faisal,aah”, Aku nggak betah saat dia memainkan vaginaku dengan
tangannya dan dielus lembut bulu vaginaku yang mulai basah. Aku
kegelian saat jari tengahnya dimasukkan kedalam lubang vaginaku, dia
semakin bernafsu.

“hhmm, Hmm”, lenguhnya.

Aku semakin menjadi
tak menentu, kekuatanku hilang saat Pak Faisal dengan fasih menaruh
lidahnya dalam lubang kemaluanku, digigit-gigit kecil kelentitku yang
memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air kemaluanku menambah Pak
Faisal semakin berani menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku
semakin kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat kurasakan
sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan Pak Faisal yang satu juga
masih tidak mau lepas pada payudaraku. Lengkap sudah kepuasan saat ini.
Semua daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya sekarang
sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana saja. Disuruhnya aku
duduk dan dia berdiri, tanganku dituntun ke arah celananya dan
disentuhkannya pada benda yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut,
kutempelkan mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku
mulai tak sabar kubuka retsleting celana Pak Faisal, kulihat putih
warna celana dalamnya dan… Astaga kepala kemaluan Pak Faisal ternyata
sudah keluar dari kolornya kucoba meraba ujung kemaluannya, keluar air
sedikit agak liat. Celana dalam putih kutarik ke bawah dan aku kaget
setengah mati, baru kali ini kulihat kemaluan lelaki kaku mendongak ke
atas, otot-ototnya kelihatan jelas meradang dan ukurannya tak
terbayangkan. Aku was-was, digoyang-goyangkan kemaluannya ke arah
mukaku, terasa pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang
kemaluan Pak Faisal dan… Wuuiihh tanganku tak cukup melingkari bulat
kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan sekitar 22 cm, dia juga
tersenyum melihat kebingunganku. Kulihat dia sambil melongo dan dia
tidak menyia-nyiakan waktu dengan mendesakkan kemaluannya ke mulutku.

Mulutku
yang kecil tidak muat mengulum semuanya hingga masih banyak yang
tersisa di luar. Aku dengan menganga penuh kususahan agar kemaluan Pak
Faisal masuk dalam rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya
aku jilati secara merata, dia mulai menggelinjang dan melenguh. Mulai
dari ujung kugerakkan masuk dan keluar dengan mulutku dia semakin tidak
karuan juga geraknya. Dengan susah payah kukelomoh kemaluan Pak Faisal
yang besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan
ada cairan manis keluar sedikit di mulutku. Kuhisap semakin kuat dan
kuat, Pak Faisal pun semakin keras erangannya. Pak Faisal mulai ingat
tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering basah
kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Pak Faisal dengan gerakan keluar
masuk seperti penyanyi karaoke.

Aku tersentak merasakan Pak
Faisal menarik kemaluannya agak keras menjauh dari mulutku dan dengan
sigap ditidurkannya aku di atas karpet, kedua kakiku diangkat
diletakkan di atas pundaknya kiri kanan sehingga posisiku mengangkang,
dia bisa melihat dengan jelas vaginaku yang kecil namun kelihatan gemuk
seperti bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan
menyenggol-nyenggolkan pada vaginaku aku kegelian. Aku bersiap
dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanan menuntun
penisnya yang gede menuju lubang vaginaku. Didorongnya perlahan,
sreett, dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai
kurasakan ujung kemaluan Pak Faisal masuk perlahan. Aku mulai geli
tetapi agak sakit sedikit. Pak Faisal melihatku meringis menahan sakit
dia berhenti dan bertanya, “Sakit ya..”, Aku tidak menjawab hanya
kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu.
Digoyangnya perlahan dan… Bleess digenjotnya kuat pantatnya kedepan
hingga aku menjerit, “aauu.” Kutahan pantat Pak Faisal untuk tidak
bergerak. Rupanya dia mengerti vaginaku agak sakit dan dia juga ikut
diam sesaat. Kurasakan kemaluan Pak Faisal berdenyut dan aku tidak mau
ketinggalan. Aku berusaha mengejan sehingga kemaluan Pak Faisal merasa
kupijit-pijit. Selang beberapa saat vaginaku rupanya sudah dapat
menerima semua kemaluan Pak Faisal dengan baik dan mulai berair
sehingga ini memudahkan Pak Faisal untuk bergerak. Aku mulai basah dan
terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Pak Faisal
menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai kegelian dan
nikmat. Kubantu Pak Faisal dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.

“Aduuhh,
Anita”, erang Pak Faisal menahan laju perputaran pantatku rupanya dia
juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku
kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku
kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya
dengan cara bergerak berputar lagi tapi dia semakin kuat memegangnya.
Kulakukan lagi gerakanku berulang dan kurasakan telur kemaluan Pak
Faisal menatap pantatku licin dan geli. Rupanya Pak Faisal termasuk
kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja
tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang. Kucoba
mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat
hasilnya Pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh iramaku Yang
semakin lancar. Kuturunkan kakiku mengkamit pinggangnya, dia semakin
tidak leluasa untuk bergerak sehingga aku bisa mengaturnya. Aku
merasakan sudah tiga kali vaginaku mengeluarkan cairan untuk membasahi
kemaluan Pak Faisal tetapi Pak Faisal belum keluar juga.

“Kecepek,
kecepek, kecepek”, bunyi kemaluanku saat kemaluan Pak Faisal mengucek
habis di dalamnya aku kegelian hebat, “Anita, aku mau keluar, Tahan
ya…” Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik vaginaku dari
kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan
tersebut kedalam mulutku, kukocok, sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap
lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar
air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang
kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluannya dari mulutku. Pak
Faisal tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando
kupegang kemaluannya dan kutuntun kelubangku dengan mendudukinya. Aku
bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama
kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya dan aku juga terasa
panas. Sreet, sreett, srreett kurasakan ada semburan hangat bersamaan
dengan keluarnya pelicin di vaginaku dia memelukku erat demikian pula
aku. Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tak bisa
lepas. Dia tersenyum puas.

“Nita, tak pernah aku merasakan vagina
kecil seperti punyamu ini, nikmat gila memijit punyaku sampai nggak
karuan rasanya, aku puas Nit.””aahh Bapak bohong, berarti sering dong
ngerasain yang lain”, manjaku.

Dia tidak menjawab hanya
tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat. Akhirnya kita keluar
dari karaoke dan pulang menuju ke rumah. Kini tangan Pak Faisal
menempel pada pahaku dan tanganku menempel di celananya. Sesekali
kusandarkan wajahku di dadanya dan jari nakal Pak Faisal mulai beraksi
dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan Pak Faisal mulai
mengeras lagi, dia tersenyum melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada
tempat yang cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan Pak Faisal semakin
mengeras. “Gila baru main sudah minta lagi rupanya, wah gawat ini bisa
nggak pulang dong malam ini”, pikirku.

Diciumnya kening dan
pipiku dan dia berkata manja.”Kalau sekarang Nita boleh ngeluarin
punyaku ini dimulut seperti tadi”, aku terbelalak rupanya dia mengerti
keinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya. Tanpa ba bi bu
lagi kuarahkan ke bawah retsleting celananya dan aku kaget ternyata Pak
Faisal tidak memakai celana dalam, gila dia sudah ngerti rupanya.

“Lho
Kemana CD-nya pak”, tanyaku pura-pura bingung.”Sudah tak taruh di
bagasi kok”, jawabnya kalem sambil mendorongkan kepalaku ke arah
kemaluannya. Aku menurut, malam ini aku bebas berbuat apa saja terhadap
kemaluan Pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar aku puas dan
puas, kursi ditarik kebelakang jadilah posisi Pak Faisal seperti orang
setengan telentang aku semakin leluasa menghisap kemaluan itu. Tangan
Pak Faisal pun tak tinggal diam diselipkan pada vaginaku yang basah
lagi, dia juga berusaha memasukkan jari tengahnya penuh ke vaginaku,
sesekali diremasnya kuat susuku saat dia kegelian.

Kulepas
mulutku, kulihat kemaluannya itu lagi sambil kugosok naik turun seperti
onani, aku kagum melihat ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku
puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung
kemaluannya. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah,
kugoyang-goyangkan telur kemaluan Pak Faisal, dia kegelian dengan
mengucek vaginaku dalam-dalam.

“eehh, sstt, aahh”, kudengar
erangannya mulai tidak karuan, aku terus melakukan hisapan, kuluman dan
jilatan pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.

“Nit,
aku mau keluar nih.” Mendengar perkataan itu aku semakin gencar
melakukan hisapan sambil tanganku bergerak naik turun untuk mempercepat
rangsangannya. Dan tak lama kemudian, “Sreett… srreett..” kurasakan
dua semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak manis
asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan Pak Faisal kurasakan ada
air mani yang langsung masuk tertelan. Aku bertahan sambil terus
menghisap dan dia semakin tidak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai
terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Pak Faisal.
Kubersihkan kemaluan Pak Faisal dengan menjilatinya sampai bersih. Aku
puas merasakan semuanya dan Pak Faisal pun demikian. Masih terus
kujilati dan kudorong keluar masuk kemaluan Pak Faisal dia terus
mengerang tidak karuan. Aku bahagia, sebentar kemudian kurasakan
kemaluannya mulai mengecil dan lemas, pada saat kecil dan lemas
tersebut aku merasakan mulutku mampu melahap kemaluannya secara
menyeluruh.

Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul
22.00 aku sudah sampai di Kos-ku dan berharap suatu saat Pak Faisal
mengajakku kembali. Pada esoknya sahabatku hanya ternganga mendengar
ceritaku yang telah berhasil berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar
air maninya dua kali, dia mengatakan aku curang karena tidak memberi
tahu bagaimana cara menggaet Pak Faisal. Aku cuek saja dan sampai kini
walaupun aku sudah berkeluarga aku masih sering membayangkan kemaluan
Pak Faisal yang tegak menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku
orangnya pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan nafkah
batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku tidak pernah ketemu
lagi sama orang yang memiliki kemaluan dan permainan seks yang hebat.

TAMAT                   

Dosen Favorit

No Comment yet. Be the first to comment on Dosen Favorit

Leave Your Comment Here!