Cewek Genit vs Playboy Dadakan

12th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 858 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Cewek Genit vs Playboy Dadakan

Beberapa tahun lalu ketika perusahaan
tempatku bekerja mendapatkan kontrak suatu proyek pada sebuah BUMN
besar di Bandung, selama setahun aku ngantor di gedung megah kantor
pusat BUMN itu. Fasilitas di gedung kantor ini lengkap. Ada beberapa
bank, kantor pos dan kantin. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung
ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang
menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. Ada 3 orang
pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 diantaranya cewek. Seorang
sudah berkeluarga, satu lagi single, 22 tahun, lumayan cantik, putih
dan mulus, mungil, sebut saja Sari namanya.

Awalnya, aku tak ada
niat “mengganggu” Sari, aku ke toko ini karena memang butuh makanan
kecil dan rokok. Sari menarik perhatianku karena paha mulusnya
“diobral”. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan.
CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang
terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Aku jadi punya niat
mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa
Sari ternyata genit dan omongannya “nyrempet-nyrempet”. Niatku makin
menggebu setelah Sari tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali
aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah meremas buah
dadanya. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya
jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada
“ongkosnya”, yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.

Agar
bisa bebas menjamah, aku pilih waktu yang tepat jika ingin membeli
sesuatu. Ternyata pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore hari
menjelang tutup adalah waktu-waktu “aman” untuk mengganggunya.
Kenakalanku makin meningkat. Mulanya hanya mengelus-elus paha, kemudian
meremas buah dada (masih dari luar), terus menyusupkan tangan ke BH
(kenyal, tak begitu besar sesuai dengan tubuhnya yang sedang), lalu
menekan-nekan penisku yang sudah tegang ke sepasang bulatan pantatnya
yang padat. Bahkan Sari sudah “berani” meremas penisku walau dari luar.
Entah kenapa Sari mau saja kuganggu. Mungkin karena aku memakai dasi
sehingga aku dikiranya manager di BUMN ini, padahal aku hanya staf
biasa di perusahaanku. Aturan perusahaan memang mengharuskan aku pakai
dasi jika kerja di kantor klien.

Aku makin penasaran. Aku harus
bisa membawanya, menggeluti tubuhnya yang padat mulus, lalu merasakan
vaginanya. Mulailah aku menyusun rencana. Singkatnya, Sari bersedia
kuajak “jalan-jalan” setelah jam kerjanya, pukul 5 sore. Tentang waktu
ini menjadi masalah. Walaupun jam kerja resmiku sampai pukul 17, tapi
aku jarang bisa pulang tepat waktu. Seringnya sampai jam 19 atau 20.
Aku coba menawar jamnya agak malam saja. Tak bisa, terlalu malam kena
marah mamanya, katanya. Okelah, nanti cari akal mencuri waktu. Pada
hari yang telah disepakati, Sari akan menunggu di jalan “D” pukul
17.10. Dari kantor ke jalan “D” memang makan waktu 10 menit jalan kaki.

Pukul
lima seperempat aku sudah sampai di jalan D. Kulihat Sari berdiri di
tepi jalan, tapi tak sendirian. Bu Maya (sebut saja begitu) kawan
sekerjanya yang telah berkeluarga ada di sampingnya. Celaka. Tadi Sari
bilang sendirian. Kalau bawa orang lain bisa terbongkar belangku oleh
kawan kantor. Hal ini sangat kuhindari.
“Bu Maya cuma mau nebeng
sampai halte”, kata Sari seolah mengetahui kekhawatiranku. Syukurlah.
Tapi, peristiwa ini harusnya tak seorangpun boleh tahu.
“Tenang aja Mas…, rahasia dijamin, ya Sari”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti.

Setelah
menurunkan bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi. Kalau
sudah ada cewek duduk di sampingku, seperti biasa mobilku langsung cari
hotel, wisma, guest-house, atau apapun namanya yang bertebaran di
daerah Setia Budi. Daerah yang sudah beken di antara para peselingkuh,
sebab sebagian besar tempat-tempat tadi menyediakan tarif khusus, tarif
“istirahat” antar 3-6 jam, 75 % dari room-rate.

Sari membiarkan
tanganku mengelus-elus pahanya yang makin terbuka ketika duduk di
mobil. Penisku mulai bangun membayangkan sebentar lagi aku bakal
menggeluti tubuh mulus padat ini.
“Ke mana Mas…”, tanya Sari
ketika aku menghidupkan lampu sein ke kanan mau masuk ke Hotel GE.”Kita
cari tempat santai…”, jawabku.”Jangan ah. Lurus aja”.
“Ke mana…”, aku balik bertanya.
“Kata Mas tadi mau jalan-jalan ke Lembang…”.
Aku
jadi ragu. Selama ini Sari memberi sinyal “bisa dibawa”, tapi sekarang
ia menolak masuk hotel. Tanganku kembali ke pahanya, bahkan terus ke
atas meraba CD-nya. “Ih, Mas…, dilihat orang”, sergahnya menepis
tanganku. Memang pada waktu yang bersamaan aku menyalip motor dan si
pembonceng sempat melihat kelakuan tanganku.

Kami sampai di
Lembang. Aku bingung. Tadi sewaktu aku mau belok kiri ke Hotel “Kh”
lagi-lagi Sari menolak. Mau ngapain di Lembang? Ke Maribaya? Ah, itu
tempat wisata, susah untuk “begituan”. Lebih baik mampir dulu buat
minum sambil mengatur taktik.
“Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda.
“Mau minum susu? Engga…, ah. Mendingan minum susu Sari aja..”. Aku tak heran, bicaranya memang suka “nyrempet”.
“Boleh…”,
kataku sambil memindahkan tanganku dari paha ke belahan kemejanya,
menyusup ke balik BH-nya, meremas. Tak ada penolakan. Daging bulat yang
‘mengkal’. Tak begitu besar tapi padat. Puting yang hampir tak terasa,
karena kecil. Celanaku terasa sesak. Sampai di perempatan aku harus
ambil keputusan mau ke mana? Lurus ke Maribaya. Kanan kembali ke Setia
Budi. Kiri ke arah Tangkuban Perahu. Kulepas tanganku dari “susu segar”
Sari, aku belok kiri. Tangan Sari kuraih kuletakkan di selangkanganku,
lalu tanganku kembali ke susu segarnya. Tangannya memijit-mijit penisku
(dari luar). Berbahaya sebenarnya. Kondisi jalan yang penuh tikungan
dan tanjakan sementara konsentrasi tak penuh.

Hari mulai gelap,
aku belum menemukan solusi masalahku, di mana aku akan menggumuli Sari?
Di tepi kanan jalan ke arah Tangkuban Perahu itu banyak terdapat
kedai-kedai jagung bakar. Kubelokkan mobilku ke situ, mencari tempat
parkir yang mojok dan gelap.
“Mau makan jagung?”, tanyanya.
“Iya”, jawabku. Makan “jagung”-mu.

Kuperiksa
keadaan sekeliling mobil. Gelap dan sepi. Segera kurebahkan jok Sari
sampai rata, kuserbu bibirnya. Sari menyambut dengan permainan
lidahnya. Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil
secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Sari melepaskan ciuman,
bangkit, memeriksa sekeliling.
“Jangan khawatir…, aman”, kataku.
“Mau
minum susu..?”, tawarnya. Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu
jelas. Sari menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga
sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. Dengan gemas kulumat
habis-habisan buah dadanya. Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas,
karena mengeras. Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Rambut kelaminnya
yang tak begitu lebat itu kuusap-usap. Sementara ujung telunjukku
memencet clitorisnya.
“aahh”, desahnya.
Tangannya kutuntun ke selangkanganku. Ia meremas.
“Buka
kancingnya Sar..” Sari menurut, dengan agak susah ia membuka kancing,
menarik ritsluiting celanaku dan “mengambil” penisku yang telah keras
tegang.

Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini. Sampai
ketika ujung jariku mulai masuk ke “pintu” vaginanya, Sari berontak,
bangkit, lagi-lagi men-cek keadaan. Di depan terlihat 2 orang pejalan
kaki menuju ke arah kami. Sari cepat-cepat mengancingkan kemejanya,
kutangnya belum sempat dibereskan. Sementara aku kembali ke tempatku.
Penisku masih kubiarkan terbuka berdiri tegak. Toh tidak akan
kelihatan. Kami berlagak “alim” sampai kedua orang itu lewat. Kembali
kami bergumul. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan”
orang lewat, kini naik lagi. Pintu vagina Saripun sudah basah. Saatnya
untuk mulai. Kupelorotkan CD Sari. Tapi, masa kutembak di mobil?
Rupanya Sari berpikiran sama.
“Jangan…, Mas…, banyak orang..”
“Makanya…, kita cari tempat, ya..”
Sari berberes sementara aku menstart mobil. Aku menyetir dengan posisi penisku tetap terbuka tegang.
“Si joni udah engga tahan ya…”, goda Sari.
“Iyyaa…, sini…”, kuraih tangannya menuju ke penisku. Dielus-elus.

Tempat
terdekat yang sudah kukenal adalah Hotel “Kh”, sedikit di bawah
Lembang. Dari jalan raya kubelokkan mobilku masuk ke lorong jalan
khusus ke hotel Kh.
“Heee…, stop…, stop Mas..”, serunya.
“Lho.., kita ‘kan cari tempat..”, aku menginjak rem berhenti. Sari diam saja.
“Di sini aman, deh Sar..”.
“Udah malem.., Mas…, Lain kali aja ya?”, Aku mulai jengkel. Si “Joni” mana mau mengerti lain kali.
“Ayolah…, Sar, sebentar aja, sekali aja..”.
“Maaf Mas, lain kali saya mau deh…, bener. Sekarang udah kemaleman. Saya takut dimarahin Mama”, Aku diam saja, jengkel.
“Bener…, Mas. lain kali saya mau..”, katanya lagi meyakinkanku.
Aku
mengalah, toh masih banyak kesempatan. Aku kembali menuju Bandung.
Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari untuk
mampir. Lagi-lagi Sari menolak sambil sedikit ngambek. Aku terus tak
jadi mampir.

Sampai di jalan lurus menjelang terminal Ledeng,
macet sekitar seratusan meter. Tempat ini memang biasa macet. Selain
keluar/masuknya angkot, juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Iseng
mengantre, kuambil tangan Sari ke penisku yang masih belum “kusimpan”,
Sari menggosoknya. Lepas dari kemacetan tiba-tiba Sari memberi tawaran
yang nikmat.
“Mau dicium..?”.
“Dengan senang hati”.
Segera
saja Sari membungkuk melahap penisku yang sudah tegang lagi. Kepalanya
naik turun di pangkuanku. Nikmatnya…, Baru kali ini aku menyetir
sambil dikulum. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati kulumannya
sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Sementara rasa nikmat
menyelimuti bawah badanku, deg-degan juga dengan kondisi yang “aneh”
ini. Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Situasi ramai.
Kuminta Sari melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang. Lepas dari
kemacetan kembali Sari memainkan lidahnya di leher penisku. Ada
untungnya juga jalanan macet. Aku punya waktu untuk menurunkan tensi
sehingga bisa bertahan lama. Oohh…, sedapnya lidah itu
mengkilik-kilik leher dan kepala kelaminku. Nikmatnya bibir itu turun
naik menelusuri seluruh batang penisku. Sayangnya, aku harus membagi
konsentrasiku ke jalan.

Menjelang pertigaan Cihampelas Sari melepas jilatannya, bangkit melihat sekeliling.
“Sampai di mana nih?”, tanyanya terengah.
“Hampir Cihampelas”, jawabku.
“Mampir ke Sultan Plaza.., ya Mas..”.
“Mau ngapain?”.
“Mama tadi pesan”.
Okey,
mendadak aku ada ide untuk melepaskan ketegangan selepas-lepasnya tanpa
terpecah konsentrasi. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman,
di belakang bangunan. Sengaja kupilih tempat yang gelap. Kucegah Sari
membuka pintu hendak turun.
“Oh ya…, sini Sari rapiin”. Kutarik kepala Sari begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku.
“Terusin…, Sar…”, perintahku.

Sari
bangkit lagi. Kukira ia mau menolak, tahunya hanya melihat sekeliling.
Aman. Kembali kepala Sari turun-naik mengulum penisku. Kini aku bisa
konsentrasi ke rasa nikmat di ujung penis. Sari memang pintar
berimprovisasi. Kelihatannya ia sudah biasa ber-oral-seks. Lidahnya tak
melewatkan seincipun batang kemaluanku. Kadang ditelusuri dari ujung ke
pangkal, kadang berhenti agak lama di “leher”. Kadang bibirnya berperan
sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. Terkadang nakal
dengan sedikit menggigit. Aku bebas saja mendesah, melenguh, atau
bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Ketika
mulutnya mulai melakukan gerakan “hubungan kelamin”, perlahan aku mulai
“naik”, rasa geli-geli di ujung sana semakin memuncak. Saatnya segera
tiba.
“Dicepetin…, Sar..”. Sari bukannya mempercepat, malah melepas.
“Uh, pegel mulut saya..”.
“Sebentar lagi…, Sar..”.

Kembali
ia melahap. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. Aku menuju puncak.
Sari makin cepat. Sebentar lagi…, hampir..! Sari mempercepat lagi,
sampai bunyi. Hampir…, hampir…, dan “Creeett”, Kusemprotkan maniku
ke dalam mulut Sari. Aku melayang.
“Uuhh” Sari melepaskan kulumannya, “Crot..”, kedua dan seterusnya ke celana dan perutku.
“Iihh…,
engga bilang mau keluar…, jijik..”, katanya sambil mencari-cari
tissu.Aku rebah terkulai. Sementara Sari membersihkan mulutnya dengan
tissu.
Beberapa saat kemudian.
“Yuk…, Mas…, turun”.
“Entar dong..”, Aku bersih-bersih diri. Celaka, noda yang di celana tak bisa hilang.
“Kamu sendiri deh”.
“Sama Mas dong..”.
“Ini…, engga bisa ilang”, kataku sambil menunjuk noda itu.
“Bajunya engga usah dimasukin”, sarannya. Betul juga.
Akhirnya
aku membayar belanjaan Sari. Aku diminta ikut belanja karena maksudnya
memang itu. Aku juga memberinya uang dengan harapan agar lain kali bisa
kusetubuhi.

Esoknya ketika aku membeli rokok, Sari kelihatan
biasa saja tak berubah. Masih genit dan sedikit manja. Peristiwa
semalam tak mengubah prilakunya. Aku yang makin penasaran ingin
menidurinya. Pernah suatu pagi sekali tokonya belum buka tapi Sari
sudah datang sendirian sedang merapikan barang-barang, kukeluarkan
penisku yang sudah tegang karena sebelumnya meremas dadanya. Kuminta
Sari mengulumnya di situ.
“Gila…! entar ada orang”.
“Belum ada…, ayo sebentar aja”.
Diapun mengulum sambil was-was. Matakupun jelalatan memperhatikan sekeliling. Kuluman sebentar, tapi membuatku exciting.
Setiap
ada kesempatan untuk pulang jam 5, aku selalu mengajak Sari. Beberapa
kali ia menolak. Macam-macam alasannya. Sedang mens, mau ngantar adik,
ditunggu mamanya. Sayang sekali, sampai Sari pindah kerja aku tak
berhasil menidurinya.

Tapi kemarin, setelah hampir 2 tahun, aku
ketemu Sari di BIP berdua dengan teman cewek. Dia rupanya sudah tidak
bekerja di toko koperasi itu lagi, sekarang kerja di Bagian
Administrasi di sebuah Guest House. Jelas aku mencatat nomor
teleponnya. Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu. Hanya,
kemungkinan ketemu kecil, sebab proyekku di kantor itu telah selesai.
Aku penasaran!

TAMAT

Cewek Genit vs Playboy Dadakan

No Comment yet. Be the first to comment on Cewek Genit vs Playboy Dadakan

Leave Your Comment Here!