Akibat Buah Terlarang

8th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1404 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Akibat Buah Terlarang

Istri sudah punya. Anak juga sudah
sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga
meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada awalnya aku cuma
iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena
makan buah terlarang.

Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat
bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan. Dari
perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki berusia
delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma
pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan.

Tapi
hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini
bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja
menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak
menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.

Awalnya aku cuma
iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak
juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat
menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari
kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung
belang.

Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan
salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan
sintal, kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak
lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada
keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati
minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung
secara bergantian.

Tapi sungguh tidak diduga sama sekali
ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil
tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku.
Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu
saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa
ini.

“Sendirian aja nih…, Omm..”, sapanya dengan senyuman menggoda.

“Eh, iya..”, sahutku agak tergagap.

“Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.

Aku
tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidak tahu
kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak
sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa
saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah
lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini
dan bertemu dengannya.

Semula aku memang canggung, Tapi
lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan
meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek,
sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.

Hampir tengah malam aku
baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam
begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang
malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di
pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti
kembali ke masa remaja.

Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke
itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini
sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani
mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan istri di
rumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku.
Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.

Mungkin karena
istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi
keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu
saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar
atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti
biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut
saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang
kreditan yang belum lunas.

Entah kenapa, tiba-tiba aku punya
pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh aku tidak
menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak ketika aku mampir di
halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika aku
membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan.

Jari-jariku
langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan
wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan
gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. Aku
tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang
membara.

Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan
satu persatu aku melucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa
busana sama sekali yang melekat di tubuh Reni yang padat berisi. Reni
mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat
mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya. Sekujur tubuhnya
langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian
tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemariku bermain-main
dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni
menggelinjang dan semakin bergairah.

Tergesa-gesa aku
menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun tangan gadis
itu ke arah batang penisku. Entah kenapa, tiba-tiba Reni menatap
wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku
ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian
melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi
keindahan pagar ayunya.

“Jangan, Omm…”, desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.

“Kenapa?” tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.

“Aku…,
hmm, aku…” Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah
menggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar
menguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa
lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi
sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak,
dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus
itu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina
gadis muda ini yang mulai tampak merekah.

Dan matanya langsung
terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan
berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai
membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penisku jadi
sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal.
Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa
leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan
pinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.

Berhasil!,
begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku
langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang penisku
melesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga
Reni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruh
urat-urat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung
bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak
kaget, aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di
dalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku,
saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya
bahwa malam ini aku juga mengambil keperawanan dari gadis yang begitu
aku sukai ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata
masih perawan.

Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian
pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah.
Aku benar-benar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali,
Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah
terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah
membara yang begitu berkobar-kobar.

Aku mulai menggerak-gerakan
tubuhku, agar penisku dapat bermain-main di dalam lubang vagina Renny
yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah mulai tampak
tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai
merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penisku seakan
membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.

Malam itu juga Reni
menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia
kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa
menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku
memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk
tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.

“Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…”, kataku mencoba menghibur.

Reny
hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan.
Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar
suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi. Sedangkan aku
masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan.

Aku
menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit
handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai
perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut
kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk
disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

Aku
memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus.
Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanya
kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk
yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu
menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang
kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang
menghiasi di sekitar vaginanya.

Dan secepat kilat aku kembali
menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan
gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang
mendadak saja terusik kembali.

“Pelan-pelan, Omm. Perih…”, rintih
Reni tertahan, saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya
untuk yang kedua kalinya. Renny menyeringai dan merintih tertahan
sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai
menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.

Perlahan
tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara
gerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali.
Beberapa kali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan
menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini
Reni mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru
dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan aku
merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan
kenikmatan denyut-denyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol dan
tidak mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan
kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan
spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Renny. Akupun
akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukan dengan Reni malam itu.

TAMAT


Akibat Buah Terlarang

No Comment yet. Be the first to comment on Akibat Buah Terlarang

Leave Your Comment Here!