Adik Sepupu Istriku

3rd October 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1801 Views | No Comments

www.sang-pakar.xyz Adik Sepupu Istriku

Pertama kali aku mengenal dirinya, aku
kagum dengan budi pekerti dan kesopanan bicaranya. Saat itu aku masih
ingat, dia sudah duduk di bangku akhir SLTP dan usianya menginjak 15
tahun, namanya Eva, ya… Eva, cantik sekali namanya secantik orangnya.
Waktu itu aku sudah bertunangan dengan kakak sepupunya yang sekarang
telah menjadi istri tercintaku dan dikaruniai seorang putra yang lucu.

Tiga
tahun kemudian adik sepupu istriku Eva datang ke rumahku dan memintaku
untuk membantu mencarikan PTS di kotaku. Aku dan istriku jadi repot
dibuatnya karena harus mengantarkan dia untuk daftar, test dan cari
kost. Selama membantu dia, aku mendapatkan pengalaman yang sangat
menarik dan membuatku bertanya-tanya dalam hati. Selama aku membantunya
mencarikan PTS di kotaku, dia sering mencuri pandang ke arahku dengan
pandangan yang nakal, kemudian terseyum sambil memandang kejauhan.
Hampir tanpa ekspresi, aku pun terdiam sampai dia berlalu. Aku terkejut
bukan karena cara pandangannya kepadaku, tapi dia sendiri itu yang
membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku kemudian berandai-andai,
jika waktu berpihak kepadaku, jika keberuntungan mendukung, jika
kesempatan mau sedikit saja berbaik hati. Mungkin juga aku yang terlalu
berharap dibuatnya, sebenarnya batinku tidak setuju untuk menyebutnya
begitu.

Sesungguhnya kita sering diganggu oleh ketidakpastian
yang menghantui kotak pikiran, namun setelah kenyataan dihadapan
mataku, maka baru sadar. Aku takut tidak dapat mengendalikan diriku
lagi. Pada suatu hari dia datang ke rumahku, karena ada hari libur
besoknya, dia mau menginap di rumahku. Hatiku jadi gelisah, aku ingin
melakukan sesuatu, mengalirkan magma yang meledak-ledak dalam diriku.
Tapi batin dan nuraniku melarangnya, tidak sepantasnya itu terjadi
padaku dan sepupuku. “Kak, tolong aku dong!” Pandangannya menusuk,
menembus dadaku hingga jantungku, serasa ingin meloncat. “Jika Kakak
tak keberatan, Eva minta diajarin naik motor bebek”, matanya mengerling
ke arahku serasa terseyum manis. Belum pernah aku menerima tawaran
seperti ini dari wanita. Kau telah menyentuh sisi paling rawan dalam
hatiku. Aku mengangguk sambil tetap mencengkram wajahnya dengan
tatapanku, sayang untuk dilepaskan. Wajahnya lembut, tenang dan dewasa,
kalau saja tubuhnya setinggi minimal 175 cm, pastilah sudah menjadi
bintang film sejak lama. Rambutnya sebahu, kulitnya kuning langsat,
Pokoknya mantap! “Mengapa memilih Kakak? Mengapa tidak kepada pacarmu
atau temanmu yang lain?” tanyaku. “Saya telah memilih Kakak”, katanya
manja. Aku mulai menggodanya, “Memilih Kakak?” Dia mengagguk lugu,
tetapi semakin mempesona. “Kalau begitu, jangan protes apa-apa, kamu
Kakak terima menjadi murid, sederhana bukan?” kataku.

“Kakak
akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini, sebab Kakak ingin
tercatat dalam hati sanubari Eva yang paling dalam sebagai orang paling
berjasa menumbuhkan dan menyemaikan bakat naik motor kepada Eva gadis
yang manis, kandidat peraih Putri Indonesia.” Tawanya meledak, matanya
menyepit, bibirnya memerah. Pipinya juga, duhh…! “Kapan Kak
belajarnya?” tanya dia. “Sekarang”, jawabku. Kemudian kami pamit kepada
istriku, dan aku mengeluarkan motor bebek, kuhidupkan mesinnya. Aku
duduk di depan dan dia di belakangku, aku mencari daerah yang sepi lalu
lintasnya. Setelah sampai di daerah yang lalu lintasnya kurasa sepi,
aku menghentikan dan turun dari motor. Kemudian aku memberikan beberapa
petunjuk yang diperlukan dan mempersilakan dia untuk duduk di depan dan
aku di belakangnya. Beberapa menit kemudian motor mulai jalan pelan dan
bergoyang-goyang hingga mau jatuh. Terpaksa aku membantu memegang stang
motor, aku tidak sempat memperhatikan lekuk tubuhnya. Badannya sangat
indah jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Lehernya yang putih,
pundaknya, buah dadanya… akh..!

Setelah aku membantu memegang
stang, motor dapat berjalan dengan stabil, aku mulai dapat membagi
konsentrasi. Aku merasakan kehangatan tangannya, telapak tanganku
menumpuk pada telapak tangannya. Kuusap tangannya, dia nggak bereaksi,
mungkin karena lagi konsentrasi dengan jalan. Kemudian aku merapatkan
dudukku ke depan sehingga kemaluanku merapat pada punggung bagian
bawah. Hidungku kudekatkan ke belakang telinganya, tercium bau wangi
pada rambutnya. Aku mulai terangsang, kemaluanku mulai tegak di balik
celana dalam yang kupakai.

Karena dia sudah mulai dapat
menguasai motor, sementara aku masih dapat mengontrol diriku dengan
baik, kutawarkan untuk latihan sendiri dan aku menunggu di warung saja.
Tapi dia nggak mau, dia ingin aku tetap duduk di belakangnya. Aku jadi
khawatir sendiri, kalau begini terus akan berbahaya, imanku kuat tapi
barangku nggak mau diajak kompromi. Akhirnya timbul dalam pikiranku
untuk sekedar berbuat iseng saja. Kemudian aku pura-pura menjelaskan
soal lalu lintas, aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel di
bawah punggungnya. Eva pasti juga dapat merasakan kemaluanku yang
tegak. Tapi dia cuma diam saja, kubisikan di telinganya, “Eva, kamu
cantik sekali!” kataku dengan suara bergetar, tetapi dia tetap tidak
bereaksi, kemudian aku meletakkan kedua tanganku di kedua pahanya.
Rupanya dia tetap tidak bereaksi, aku jadi semakin berani mengusap-usap
pahanya yang terbuka, karena dia memakai celana pendek.

“Akh… Kakak nakal!” katanya manja, “Entar dimarahi Kak Lina lho, kalau ketahuan!”

“Kalau Eva nggak cerita, ya… nggak ada yang tahu! Emang Eva mau cerita sama Kak Lina?” tanyaku.

“Ya… nggak sih”, katanya.

“Kalau gitu kamu baik dech”, kataku.

Karena
mendapat lampu hijau aku semakin berani, kukatakan bahwa payudaranya
sangat bagus bentuknya, lebih bagus dari punya kakaknya, Lina. Dia
tampak senang.

“Kakak ingin sekali menyentuhnya, boleh nggak?” kataku meluncur dengan begitu saja.

“Akh… Kakak nakal”, katanya manja.

Aku
semakin nekat saja, sebab dari jawabannya aku yakin dia nggak
keberatan. Kemudian tanganku pelan-pelan mulai menyentuhnya dan
kemudian memegang penuh dengan telapak tanganku. Wah, rasanya keras
sekali, kucoba meremasnya dan dia sedikit terkejut. Aku tidak dapat
memegang lama-lama sebab harus membagi konsentrasi dengan jalan. Yang
jelas kemaluanku semakin berdenyut-denyut.

Aku tersentak waktu
dia mengerem motor dengan mendadak untuk menghindari lubang. Tubuhku
menekan tubuhnya hingga membuat kesadaranku pulih, akhirnya aku
memutuskan untuk mengajaknya pulang. Aku sempat melihat kekecewaan di
matanya. Tapi mau bagaimana lagi itu jalan terbaik, agar aku tidak
sampai terjebak pada posisi yang sulit nantinya.

Besok paginya,
waktu aku mau berangkat bekerja, istriku memintaku untuk mengantarkan
Eva dulu ke tempat kostnya. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku
menjadi berdebar-debar. Nggak lama kemudian Eva mendekati kami. “Kak,
antarin Eva dulu dong? Eva ada kuliah pagi nich! Teman Eva nggak jadi
menjemput”, katanya. “Ayo!” ajakku sambil masuk ke dalam mobil. “Eva
mau mandi dulu ya Kak!” katanya. “Nggak usah”, kataku, “Nanti keburu
macet di jalan, mandinya nanti aja di kost.”

Di dalam hatiku aku
sudah berjanji bahwa aku harus dapat mengendalikan diri. Sehingga
selama dalam perjalanan aku banyak diam. Akhirnya dia mulai membuka
pembicaraan, “Kak, kok diam aja sih? Marah ya? Anterin Eva pulang!”
kata Eva. “Kakak cuma lagi kurang nikmat badan saja”, jawabku
sekenanya. Setelah sampai di depan rumah kostnya, dia minta aku untuk
ikut masuk, mengambil mainan yang telah dibelikannya untuk anakku.
Mulanya aku menolaknya, tapi karena dia mau buru-buru berangkat kuliah
dan juga belum mandi, sedangkan kamarnya di lantai 3. Aku jadi kasihan
kalau dia harus naik turun tangga hanya untuk mengambilkan mainan saja.
Akhirnya aku mengikutinya dari belakang, aku sempat heran dan tanya
kepada dia, “Kok sepi sekali?” Ternyata kata Eva semua sudah pada
berangkat kuliah. Kemudian aku disuruh menunggu di kamarnya, sementara
dia mandi. Setelah selesai mandi dia masuk ke kamar, wajahnya kelihatan
segar. “Lho kok nggak ganti pakaian?” tanyaku. “Iya, tadi temanku kasih
tahu kalau dosennya nggak masuk, jadi Eva nggak perlu buru-buru lagi.”
katanya. Sementara aku duduk di tempat tidurnya, dia mengambilkan
mainan yang akan diberikan pada anakku. “Ini Kak”, katanya sambil duduk
di sampingku. “Wah bagus sekali. Terima kasih ya!” kataku.

Sewaktu
aku mau berpamitan keluar, pandangan mataku beradu dengannya, hati ini
kembali berdebar-debar, pandangan matanya benar-benar meluluh-lantakan
hatiku dan menghancurkan imanku. Aku tidak jadi berdiri, kupegang
tangannya. Kuusap dengan penuh perasaan, dia diam saja, kemudian
kupegang pundaknya, kubelai rambutnya, “Eva kamu cantik sekali”, kataku
dengan suara bergetar, tapi Eva diam saja dengan muka semakin menunduk.
Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam
saja, aku jadi semakin berani, kucium di bagian belakang telinganya
dengan lembut, rupanya dia mulai terangsang. Dengan pelan-pelan badan
Eva aku bimbing, kuangkat agar berada dalam pangkuanku.

Sementara
kemaluanku semakin menegang, usapan tanganku semakin turun ke arah
payudaranya. Aku merasa nafas Eva sudah memburu seperti nafasku juga.
Aku semakin nekat, tanganku kumasukan ke dalam kaosnya dari bawah.
Pelan-pelan merayap naik ke atas mendekati panyudaranya, dan ketika
tanganku sudah sampai ke pinggiran payudaranya yang masih tertutup
dengan BH-nya, kuusap bagian bawahnya dengan penuh perasaan, dia
menggelinjang dan menoleh ke arahku dengan mulut sedikit terbuka. Aku
jadi tidak tahan lagi, kutundukan muka kemudian mendekatkan bibirku ke
bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan sangat hangat,
kenyal dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan perasaan sayang dan
Eva membalas ciumanku, pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajahi
ke dalam mulutnya dan mengkait-kaitkan lidahnya, membuat nafas Eva
semakin memburu. Tanganku pun tidak tinggal diam, kusingkapkan BH-nya
ke atas, sehingga aku dapat dengan leluasa memegang payudaranya. Aku
belum melihat tapi aku sudah dapat membayangkan bentuknya, ukurannya
tidak terlalu besar dan terlalu kecil, sehingga kalau dipegang rasanya
pas dengan telapak tanganku. Payudaranya bulat dengan punting yang
tegak bergetar seperti menantangku. Kuusap dan kuremas, Eva mulai
merintih.

Kemudian Eva kurebahkan di kasur, kulepas kaosnya dan
BH-nya sehingga tampak pemandangan yang sangat menakjubkan. Dua buah
gundukan yang berdiri tegak menantang, kupandangi badannya yang
setengah telanjang. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah
dadanya, dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Eva merintih lebih
keras. Nafsuku semakin naik, kuciumi susunya dengan tidak sabar.
Putingnya kukulum dengan lidahku, kuputar-putar di sekitar putingnya
dan susunya yang sebelah kuremas dengan tanganku. “Aduuhh… ahh…
ah”, Eva semakin mengerang-erang dan dengan gemas putingnya
kugigit-gigit sedikit. Badannya menggelinjang membuatku semakin
bernafsu untuk terus mencumbunya. Sekarang tanganku mulai beroperasi di
daerah bawah, kubuka celana pendeknya hingga sekarang hanya mengenakan
celana dalam saja, rupanya celana dalamnya sudah basah. Akhirnya
kulepas sekalian, sehingga tampak vaginanya yang masih kencang dan
ditumbuhi rambut yang tidak banyak, membuat kemaluanku semakin tegang.
Kubersihkan vaginanya dengan bekas celana dalamnya. Kemudian kupandangi
dan kuusap-usap dengan penuh perasaan, Eva tampak sangat menikmati
sekali, dan saat jariku menyentuh klitorisnya, Eva menggelinjang dengan
keras. Sementara klitorisnya masih kuusap-usap dengan jariku, Eva
semakin menggeliat-liat. Pada saat itu aku ingin sekali mencium
vaginanya, karena sudah terangsang sekali. Saat aku mau menunduk untuk
mencium, kuangkat tanganku tapi pada saat itu dia langsung merapatkan
kedua pahanya dan badannya tegang sekali dan tersentak-sentak selama
beberapa saat. “aahhkk… ooohh… Kak, aahh!”

Akhirnya Eva diam
beberapa saat, kudiamkan saja, sebab dia baru saja merasakan orgasme.
Tubuhnya terkulai lemas, aku jadi kasihan sehingga senjataku juga
ikut-ikutan turun. Dengan penuh rasa kasih sayang aku menghampirinya,
duduk di pembaringan sejajar dengan buah dadanya dan menghadap ke arah
wajahnya. Tubuhnya kututupi dengan selimut. Kubelai rambutnya dan
kucium keningnya, rupanya dia terharu dengan perilakuku. Baru saja aku
mau berdiri, tanganku diraihnya, kemudian aku duduk lagi, tahu-tahu
tangannya sudah ada di atas pahaku.

“Kak, baru kali ini Eva
merasakan sensasi yang sangat luar biasa nikmatnya, sebab yang namanya
disentuh oleh laki-laki Eva belum pernah, apalagi pacaran. Jadi Kakak
adalah orang yang pertama yang menyentuh Eva, tapi Eva senang kok Kak.
Tadi Eva merasakan nikmatnya sampai tiga kali Kak, Eva sangat puas
kak!” Dalam hatiku bertanya mengapa bisa sampai 3 kali, padahal aku
kira cuma sekali. Pantas dia langsung KO. Mungkin karena dia tidak
pernah dijamah laki-laki, jadi tubuhnya sangat sensitif sekali. “Kok
diam saja, Kak? Apa Kakak juga udah puas?” tanyanya. “Eva nggak usah
pikirin Kakak, yang penting kamu sudah dapat merasakan nikmatnya orang
bercumbu yang seharusnya belum boleh kamu rasakan. Sekarang Kakak mau
berangkat bekerja dulu, oke!” kataku. “Kak gimana caranya biar Kakak
juga bisa merasakan nikmat”, katanya dengan lugu. Tangannya yang masih
ada di atas pahaku tahu-tahu sudah melepas sabukku dan membuka
celanaku. “Biar Eva juga mau pegang punya Kakak seperti tadi Kakak
pegang punya Eva, tadi waktu Kakak pegang memek Eva dan mengusap-usap,
Eva mendapat kenikmatan luar biasa, berarti kalau punya Kakak Eva
pegang dan diusap-usap pasti Kakak juga merasa nikmat”, katanya sok
tahu.

Sekarang celana dalamku sudah kelihatan dan Eva mulai
memegang dan meremasnya dari luar. Kemaluanku jadi tegak dan menyembul
keluar dari celana dalamku. Dia terkejut dan takjub, “Wuah besar
sekali.” Kalau sudah begini aku jadi lupa lagi dengan diriku, aku
menurunkan celana dalamku agar dia dapat leluasa memainkannya.
Kemaluanku yang sudah sangat tegak digenggamnya dengan telapak
tangannya dan diremasnya. “Akh.. Eva, enaakk”, dia tambah bersemangat.
Jari-jarinya mengusap-usap kepala kemaluanku. “Eva, teruskan sayang…”
kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa
kemaluanku sudah keras sekali. Eva meremas dan mengurut kemaluanku
semakin cepat. “Eva!” seruku, “Kakak akan terasa lebih nikmat kalau Eva
mau menciumnya!” Kemudian kupindahkan kepalanya di pahaku dan susunya
menempel dipunggungku, aku ajari dia, mulanya kusuruh cium batang
kemaluanku kemudian kusuruh jilati dengan lidahnya. Aku merasakan
sesuatu yang lain yang tidak kualami jika dengan istriku, mungkin
karena Eva masih gadis, lugu dan tubuhnya belum pernah dijamah
sedikitpun oleh laki-laki. Rupanya Eva juga menikmati dan mulai
terangsang. Karena posisi kami kurang bebas, aku membimbing Eva bangun
dari pembaring dan duduk di lantai sementara aku tetap duduk di
pembaring, sehingga mukanya tepat di depan selangkanganku. Kini dengan
leluasa dia dapat melihat kemaluanku yang semakin keras. Kemaluanku
terus dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya
memuncak.

Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke arah kemaluanku
dan bibirnya mengecup kepala kemaluanku, tangannya memegang pangkal
kemaluanku. Mulutnya mulai ditempelkan pada kepala kemaluanku dan
lidahnya kusuruh menjilati ujungnya. Dan aku mulai menyuruhnya untuk
dikulum di dalam mulutnya, mulutnya mulai dibuka agak lebar dan
kemaluanku bagian ujungnya mulai dikulum, aku semakin keenakan, “Eva..
eunnak! terus sayang, masukan terus lebih dalam lagi, nah… begitu
sayang.” Rambutnya kuusap-usap dan kepalanya pelan-pelan kutarik
kemudian kudorong lagi ke arah kemaluanku. Rupanya dia tahu maksudku,
kemudian dia maju mundurkan kemaluanku di dalam mulutnya. Aku merasa
sudah nggak tahan, apalagi sewaktu Eva melakukannya semakin cepat.
Ketika aku merasa spermaku mau keluar, pelan-pelan kutahan gerakan
kepalanya, maksudku mau menarik kemaluanku keluar dari mulutnya. Tetapi
dia malah melawan gerakanku, dengan memegang pangkal kemaluanku lebih
kuat dan mempercepat gerakannya. Akhirnya aku tidak dapat menahan lebih
lama lagi, “aahh, aahh, aahh…!” Spermaku keluar di dalam mulutnya
dengan rasa nikmat luar biasa dan badanku sampai tersentak-sentak.
Kemudian kemaluanku kutarik dari mulutnya. Aku melihat di mulutnya
belepotan dengan spermaku, kuangkat dia dan kududukan di pahaku,
tanganku yang sebelah kiri menopang kepalanya, sedangkan tanganku yang
kanan membersihkan mulutnya. “Kamu pintar sekali, Kakak mendapatkan
kenikmatan yang luar biasa”, kataku berbisik. “Eva.. juga Kak, sekarang
Eva merasakan tulang-tulang Eva seperti lepas!” Kemudian kuangkat
tubuhnya yang masih telanjang, kurebahkan di pembaring. Aku sendiri
merapikan pakaian dan langsung pamit pulang.

Setelah kejadian
tersebut aku sangat merasa menyesal, tapi lagi-lagi sudah terlambat,
tapi hatiku mengatakan tidak ada yang terlambat, lebih baik terlambat
dari pada tidak sama sekali. Aku kembali berjanji dalam hatiku cukup
sampai di sini.

 

TAMAT

 

Adik Sepupu Istriku

No Comment yet. Be the first to comment on Adik Sepupu Istriku

Leave Your Comment Here!